Kata
Pengantar
Puji dan syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianya sehinnga dapat menyelesaikan
tugas makalah Bahasa Indonesia yang berjudul Pengaruh Globalisasi Terhadap
nilai moral suatu bangsa.
Penyusunan makalah ini
dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia
pada semester ganjil tahun 2012-2013. Dalam makalah ini diuraikan tentang
Pengaruh Globalisasi terhadap nilai moral suatu bangsa, mencakup tentang
Pengaruh Positif, dan cara Menaggulangi pengaruh Negatif Globalisasi.
Penyusun menyadari, penyusunan makalah ini
masih jauh dari sempurna, serta masih banyak kekurangan. Penyusun mohon kritik
dan saran dari rekan-rekan semua kearah kesempurnaan makalah ini.
Penyusun mengucapkan
terimakasih kepada Dosen Mata Pelajaran Bahasa Indonesia atas bimbingannya, dan
juga kepada rekan-rekan yang terlibat didalamnya, sehingga makalah ini bisa
tersusun.
Akhirnya penyusun berharap, makalah ini bisa
bermanfaat bagi penyusun sendiri ataupun semua pihak yang memerlukan.
Indonesia, November 2012
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar…………………………………………………………………….i
Daftar Isi…………………………………………………………….................ii
Bab 1 PENDAHULUAN
1.1Permasalahan…………………………………………………………………..
1.2Rumusan Masalah………………………………………………………………
1.3Tujuan makalah…………………………………………………………………
1.4Manfaat
Bab II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Globalisasi……………………………………………………………….
2.2 Sejarah Globalisasi
2.3 Proses globalisasi
2.4 Ciri ciri Globalisasi…………………………………………………………………..
2.5 Faktor-faktor terjadinya globalisasi……………………………………………………
2.6 Pengaruh positif dan negatif globalisasi…………………………………………
2.7 Cara Mencegah Dampak Bahaya Global
2.8 Peran Pemerintah Dalam Globalisasi
2. 9 Masyarakat Dalam Menghadapi Globalisasi
2.10 Pengertian moral…………………………………………………………………….
2.11 Isu Isu Pendidikan Nilai Moral di Beberapa Negara
2. 12 Dimensi Pendidikan Nilai
Moral
2. 13 Pendidikan Nilai Moral
2. 14 Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
2. 15 Metode dan Teknik
Pendidikan Nilai Moral
BAB III PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………………………
Saran………………………………………………………………………………………
Daftar Pustaka………………………………………………………………………….
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang /Permasalahan
Globalisasi
adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam
masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu.
Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi
proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan.
Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus
dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan
kehidupan.Di era globalisasi ini dapat mempengaruhi
perkembangan sosial budaya pada suatu bangsa. Akhir-akhir ini,
kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai penyimpangan moral yang terjadi
di kalangan masyarakat Indonesia. Tawuran pelajar, perkelahian antar genk,
perilaku seks bebas, gaya hidup tidak beraturan menjadi beberapa contoh
kelunturan moral di kalangan generasi muda kita. Di kalangan pejabat, praktek
korupsi masih merupakan persoalan yang sangat mengerikan di Indonesia.
Masyarakat secara umum pada akhirnya kehilangan rujukan keteladanan, sehingga
krisis moral semakin meluas. Globalisasi ini membawa berbagai perubahan yang menyentuh pada dasar
kehidupan manusia.perubahan tersebut disebabkan oleh pelestarian lingkungan
hidup serta perjuangan hak asasi manusia dan penigkatam kualitas hidup serta
dapat merusak nilai moral suatu bangsa serta masih banyak yang lainya seperti terorisme global dan multidimensi krisis, yang satu negara tidak dapat mengatasi sendiri
karena untuk melakukan hal tersebut perlu dukungan
negara lain Pendidikan nilai moral merupakan alternatif Masalah solusi yang lokal,
regional, nasional, dan
internasional di alam. Hal itu telah
menjadi isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina)
dan memiliki beberapa
perbedaan dan persamaan. Hasil perbedaan dari negara yang berbeda ideologi. Namun,
negara-negara tersebut seperti menekankan
nilai moral pendidikan
pada nilai-nilai etika moral,yang terutama pada nilai-nilai yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang bersifat
universal dan global. Konsep pendidikan nilai moral yang diusulkan oleh Kohlberg dan Miller
cenderung individualistik. Oleh karena itu, kebutuhan untuk menjadi dilengkapi
dengan memperhitungkan
paradigma yang diusulkan oleh Capra bahwa manusia
hidup dibangun atas dasar pandangan sistemik dan holistik kehidupan, salah satu yang tidak parsial dan individualistis. Dalam pelaksanaannya, perlu pendekatan yang tepat dan metode yang relevan dan teknik. Pendekatan untuk pendidikan nilai moral termasuk menanamkan, pemodelan, memfasilitasi, dan pendekatan pengembangan keterampilan, dan metode termasuk dogmatis, metode deduktif, induktif, dan reflektif.seperti globalisasi kebudayaan globalisasi ini dapat mempengaruhi hamper semua aspek yang ada dalam masyarakat termasuk kedalam aspek budaya.di Indonesia contohnya Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja di Indonesia yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian mereka tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan lagi gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Singkatnya orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak lagi remaja yang mau melestarikan budaya bangsanya sendiri dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Jika pengaruh di atas dibiarkan, apa jadinya Moral generasi bangsa tersebut.Dampak masuknya budaya asing antara lain. terjadi perubahan kebudayaan, pembauran kebudayaan, modernisasi, keguncangan budaya, melemahnya nilai-nilai budaya bangsa. Dampak tersebut membawa pengaruh besar bagi Indonesia, baik dari segi postif, maupun negatif. Indonesia, masih terlalu lemah dalam menyaring budaya yang baik di ambil dengan yang tidak. Globalisasi perekonomian ini mempunyai dampak yang negative antara lain menghambat pertumbuhan sektor industry, Sektor keuangan semakin tidak stabil, Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang pada intinya akan mempengaruhi nilai moral suatu bangsa antara lain semakin meningkatnya kasus pencurian, perampokan, pemerasan, dan masih banyak lagi lainya Ditinjau dari aspek yang lain globalisasi juga dapat menimbulkan Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
hidup dibangun atas dasar pandangan sistemik dan holistik kehidupan, salah satu yang tidak parsial dan individualistis. Dalam pelaksanaannya, perlu pendekatan yang tepat dan metode yang relevan dan teknik. Pendekatan untuk pendidikan nilai moral termasuk menanamkan, pemodelan, memfasilitasi, dan pendekatan pengembangan keterampilan, dan metode termasuk dogmatis, metode deduktif, induktif, dan reflektif.seperti globalisasi kebudayaan globalisasi ini dapat mempengaruhi hamper semua aspek yang ada dalam masyarakat termasuk kedalam aspek budaya.di Indonesia contohnya Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja di Indonesia yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian mereka tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan lagi gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Singkatnya orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak lagi remaja yang mau melestarikan budaya bangsanya sendiri dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Jika pengaruh di atas dibiarkan, apa jadinya Moral generasi bangsa tersebut.Dampak masuknya budaya asing antara lain. terjadi perubahan kebudayaan, pembauran kebudayaan, modernisasi, keguncangan budaya, melemahnya nilai-nilai budaya bangsa. Dampak tersebut membawa pengaruh besar bagi Indonesia, baik dari segi postif, maupun negatif. Indonesia, masih terlalu lemah dalam menyaring budaya yang baik di ambil dengan yang tidak. Globalisasi perekonomian ini mempunyai dampak yang negative antara lain menghambat pertumbuhan sektor industry, Sektor keuangan semakin tidak stabil, Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang pada intinya akan mempengaruhi nilai moral suatu bangsa antara lain semakin meningkatnya kasus pencurian, perampokan, pemerasan, dan masih banyak lagi lainya Ditinjau dari aspek yang lain globalisasi juga dapat menimbulkan Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
1.2 Rumusan Masalah
1.Apa definisi dari moral dan globalisasi?
2. apa ciri ciri dari globalisasi?
3. Apa pengaruh pengaruh yang ditulmbulkan globalisasi terhadap moral
suatu bangsa?
4. Bagaimana cara mencegah dampak/pengaruh bahaya global tersebut?
5. Mengapa nilai moral sangat diperlukan di era globalisasi ini?
6.bagaimana peran pemerintah dalam menanggapi globalisasi yang dapat
merusak nilai moral suatu bangsa?
7. Bagaimana tanggapan masyarakat akam hal tersebut?
8. Bagaimana pengaruh globalisasi
terhadap kebudayaan nasional ?
1.3 Tujuan
makalah
ini dibuat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta mengetahui
pentingnya nilai nilai moral bagi kehidupan suatu bangsa pada era globalisasi
ini.mengetahui definisi dari moral dan globalisasi,cirri cirri globalisasi
pengaruh pengaruh yang ditimbulkan globalisasi terhadap moral,cara mencegah
pengaruh negative globalisasi dan menetahui pentingnya nilai moral pada era
globalisasi.
Adapun manfaat yang dapat
diambil dari penulisan makalah ini antara lain adalah:
1. Untuk penulis sendiri
makalah ini bermanfaat untuk menyelesaikan mata kuliah Ilmu sosial dan budaya
dasar serta dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah di dapat dari
pembelajaran mata kuliah Ilmu sosial dan budaya dasar.
2. Untuk orang lain
makalah ini dapat menjadi sumber referensi untuk menjadi bahan penulisan lebih
lanjut.
3. Untuk ilmu
pengetahuan makalah ini dapat memperkaya literature terkait dengan globalisasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Globalisasi
Pengertian Globalisasi Menurut
asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal.Globalisasi adalah proses
integrasi internasional yang timbul
dari pertukaran pandangan
dunia, produk, ide,
dan aspek lain dari budaya 1 2. Secara khusus, kemajuan dalam transportasi dan infrastruktur telekomunikasi, termasuk munculnya Internet, yang
utama faktor globalisasi dan memicu saling
ketergantungan lebih lanjut dari kegiatan
ekonomi dan budaya.Ada juga yang mengatakan globalisasi merupakan suatu proses penyebaran
penyebaran hasil karya dan pemikiran suatu budaya sehingga melembaga dalam
kebudayaan di seluruh dunia.Achmad Suparman menyatakan
Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku)
sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working
definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang
memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses
alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu
sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi
dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.Di
sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh
negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif
atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah
kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya
praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak
berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh
besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang
lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama
kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
• Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantungsatusamalain.
• Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatantarifeksporimpor,lalulintasdevisa,maupunmigrasi.
• Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
• Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
• Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :LAURENCE E.ROTHENBERG Globalisasi adalah percepatan dan intensifikasiinteraksi dan integrasiantara orang-orang,perusahaan,dan pemerintah dari Negara yang berbeda.Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasidan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalahuntuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama misalnya bentuknya PBB, OKI3.Achmad Suparman. Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (bendaatau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Scholte. Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional.Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.Scholte. Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.Leonor Briones. Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonominamun juga mencakup globalisasi institusi-institusi demokratis, pembangunansosial, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita.Scholte. Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal materialmaupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.Steger. kondisi sosial yang ditandai dengan adanya interkoneksi ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan global dan arus yang membuat banyak dari perbatasansaat ini sudah ada dan batas-batas tidak relevan.Anthony Giddens (1989), proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakatdunia dinamakan dengan globalisasi. Ditandai oleh kesenjangan tingkatkehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga(yang pernahdijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian). Emanuel Ritcher. Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaanmenyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasikedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.Beerkens Keterkaitan seluruh dunia antara negara-bangsa menjadi dilengkapidengan globalisasi sebagai sebuah proses di mana pengaturan sosial dasar (sepertikekuasaan, budaya, pasar, politik, hak, nilai, norma, ideologi, identitas,kewarganegaraan, solidaritas) menjadidisembedded dari spasial mereka konteks(terutama negara-bangsa) karena,massification percepatan, difusi flexibilisation,dan perluasan arus transnasional orang,produk, gambar dan informasi keuangan Tom G.Palmer.globalisasi sebagai "penyusutan atau penghapusan negara-diberlakukan pembatasan pertukaran lintas batas dan sistem global yang semakinterintegrasi dan kompleksproduksi dan pertukaran yang telah muncul sebagaiakibat.Lucian W.Pye. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau worldculture).Takis Fotopoulos. globalisasi ekonomi "sebagai pembukaan dan deregulasi pasar komoditas, modal dan tenaga kerja yang menyebabkan globalisasi neoliberal ini."globalisasi politik "bernamamunculnya elit transnasional dan keluar pentahapandari negara-bangsa." globalisasibudaya "adalah homogenisasi budaya di seluruhdunia.Joseph Stiglitz. Globalisasi "adalah integrasi lebih dekat dari negara dan penduduk dunia dibawa oleh pengurangan besar biaya transportasi dankomunikasi, dan dipatahkannya rintangan buatan untuk arus barang,jasa, modal, pengetahuan, dan orang di seluruh perbatasan. Thomas L.Friedman. Globlisasi memiliki dimensi ideology dan teknlogi.Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensiteknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.Merriam Webster Dictionary. perkembangan ekonomi global yang semakinterintegrasi ditandai terutama oleh perdagangan bebas, arus modal yang bebas,dan menekan lebih murah pasar tenaga kerja asing. Dr.Nayef R.F. Al-Rodhan. Globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab,kasus, dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatanmanusia dan non-manusia.Malcom Waters. Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yangterjelma didalam kesadaran orang.Anthony Giddens. globalisasi sebagai 'intensifikasi hubungan sosial seluruh duniayang menghubungkan daerah yang jauh dalam sedemikian rupa sehinggakejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dansebaliknya'.Peter Drucker. menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.Wikipedia Ensiklopedia. Globalisasi atau penyejagatan adalah sebuah istilah yangmemiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksiyang lain sehingga batas-batas suatunegaramenjadi semakin sempit.Princenton N.Lyman.Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atassaling ketergantungan dan hubungan antara Negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.A.G. McGrew. Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan,dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.Albrow.Globalisasi mengacu pada semua proses dimana masyarakat duniadimasukkan ke dalam sebuah masyarakat tunggal dunia, masyarakat global.Wartawan Thomas L. Friedman mempopulerkan "dunia datar" istilah, dengan alasan bahwa perdagangan global, outsourcing, pasokan-chaining, dan kekuatan politik secara permanen mengubah dunia, untuk lebih baik dan lebih buruk. Ia menegaskan bahwa laju globalisasi yang mempercepat dan dampaknya terhadap organisasi bisnis dan praktek akan terus tumbuh.Adanya globalisasi mampu membuat dunia tampak sempit, dahulu apabila kita akan menonton siaran sepak bola kita harus ke negara yang mengadakan pertandingan. Tapi sekarang kita tidak perlu kemana-mana, kita cukup melihat di televisi. Ketika akan menghubungi seseorang kita harus bertemu dengan orang tersebut, tetapi sekarang dengan adanya pesawat telepon kita tidak perlu bertemu langsung cukup berbicara melalui telepon saja. Adanya globalisasi membawa manfaat bagi umat manusia tetapi ada juga dampak buruknya.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
• Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantungsatusamalain.
• Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatantarifeksporimpor,lalulintasdevisa,maupunmigrasi.
• Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
• Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
• Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :LAURENCE E.ROTHENBERG Globalisasi adalah percepatan dan intensifikasiinteraksi dan integrasiantara orang-orang,perusahaan,dan pemerintah dari Negara yang berbeda.Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasidan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalahuntuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama misalnya bentuknya PBB, OKI3.Achmad Suparman. Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (bendaatau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Scholte. Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional.Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.Scholte. Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.Leonor Briones. Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonominamun juga mencakup globalisasi institusi-institusi demokratis, pembangunansosial, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita.Scholte. Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal materialmaupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.Steger. kondisi sosial yang ditandai dengan adanya interkoneksi ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan global dan arus yang membuat banyak dari perbatasansaat ini sudah ada dan batas-batas tidak relevan.Anthony Giddens (1989), proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakatdunia dinamakan dengan globalisasi. Ditandai oleh kesenjangan tingkatkehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga(yang pernahdijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian). Emanuel Ritcher. Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaanmenyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasikedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.Beerkens Keterkaitan seluruh dunia antara negara-bangsa menjadi dilengkapidengan globalisasi sebagai sebuah proses di mana pengaturan sosial dasar (sepertikekuasaan, budaya, pasar, politik, hak, nilai, norma, ideologi, identitas,kewarganegaraan, solidaritas) menjadidisembedded dari spasial mereka konteks(terutama negara-bangsa) karena,massification percepatan, difusi flexibilisation,dan perluasan arus transnasional orang,produk, gambar dan informasi keuangan Tom G.Palmer.globalisasi sebagai "penyusutan atau penghapusan negara-diberlakukan pembatasan pertukaran lintas batas dan sistem global yang semakinterintegrasi dan kompleksproduksi dan pertukaran yang telah muncul sebagaiakibat.Lucian W.Pye. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau worldculture).Takis Fotopoulos. globalisasi ekonomi "sebagai pembukaan dan deregulasi pasar komoditas, modal dan tenaga kerja yang menyebabkan globalisasi neoliberal ini."globalisasi politik "bernamamunculnya elit transnasional dan keluar pentahapandari negara-bangsa." globalisasibudaya "adalah homogenisasi budaya di seluruhdunia.Joseph Stiglitz. Globalisasi "adalah integrasi lebih dekat dari negara dan penduduk dunia dibawa oleh pengurangan besar biaya transportasi dankomunikasi, dan dipatahkannya rintangan buatan untuk arus barang,jasa, modal, pengetahuan, dan orang di seluruh perbatasan. Thomas L.Friedman. Globlisasi memiliki dimensi ideology dan teknlogi.Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensiteknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.Merriam Webster Dictionary. perkembangan ekonomi global yang semakinterintegrasi ditandai terutama oleh perdagangan bebas, arus modal yang bebas,dan menekan lebih murah pasar tenaga kerja asing. Dr.Nayef R.F. Al-Rodhan. Globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab,kasus, dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatanmanusia dan non-manusia.Malcom Waters. Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yangterjelma didalam kesadaran orang.Anthony Giddens. globalisasi sebagai 'intensifikasi hubungan sosial seluruh duniayang menghubungkan daerah yang jauh dalam sedemikian rupa sehinggakejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dansebaliknya'.Peter Drucker. menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.Wikipedia Ensiklopedia. Globalisasi atau penyejagatan adalah sebuah istilah yangmemiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksiyang lain sehingga batas-batas suatunegaramenjadi semakin sempit.Princenton N.Lyman.Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atassaling ketergantungan dan hubungan antara Negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.A.G. McGrew. Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan,dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.Albrow.Globalisasi mengacu pada semua proses dimana masyarakat duniadimasukkan ke dalam sebuah masyarakat tunggal dunia, masyarakat global.Wartawan Thomas L. Friedman mempopulerkan "dunia datar" istilah, dengan alasan bahwa perdagangan global, outsourcing, pasokan-chaining, dan kekuatan politik secara permanen mengubah dunia, untuk lebih baik dan lebih buruk. Ia menegaskan bahwa laju globalisasi yang mempercepat dan dampaknya terhadap organisasi bisnis dan praktek akan terus tumbuh.Adanya globalisasi mampu membuat dunia tampak sempit, dahulu apabila kita akan menonton siaran sepak bola kita harus ke negara yang mengadakan pertandingan. Tapi sekarang kita tidak perlu kemana-mana, kita cukup melihat di televisi. Ketika akan menghubungi seseorang kita harus bertemu dengan orang tersebut, tetapi sekarang dengan adanya pesawat telepon kita tidak perlu bertemu langsung cukup berbicara melalui telepon saja. Adanya globalisasi membawa manfaat bagi umat manusia tetapi ada juga dampak buruknya.
2.2 Sejarah Globalisasi
Banyak sejarawan yang
menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan
bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam
hubungan antar bangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila
ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal
perdagangan antar negeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang
dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat
(seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Fenomena
berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah
terjadinya globalisasi.
Fase selanjutnya
ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum
muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang,
Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut
Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang
muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai
sosial dan budaya Arab ke warga dunia.
Fase selanjutnya
ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa.
Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini.
Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan
keterkaitan antar bangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi
dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat
itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar
terhadap difusi kebudayaan di dunia.
Semakin berkembangnya
industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai
perusahaan multinasional di dunia. Di Indinesia misalnya, sejak politik pintu
terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport
dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari
Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap
menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.
Fase selanjutnya terus
berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme
di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa
kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia.
Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang
bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan
transportasi. Alhasil, sekat-sekat antar negara pun mulai kabur.
2.3 Proses Globalisasi
Globalisasi
sebagai suatu proses bukanlah suatu fenomena baru karena proses globalisasi
sebenarnya telah ada sejak berabad-abad lamanya.Di akhir abad ke-19 dan awal
abad ke-20 arus globalisasi semakin berkembang pesat di berbagai negara ketika
mulai ditemukan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi.Loncatan
teknologi yang semakin canggih pada pertengahan abad ke-20 yaitu internet dan
sekarang ini telah menjamur telepon genggam (handphone) dengan segala
fasilitasnya.Bagi Indonesia, proses globalisasi telah begitu terasa sekali
sejak awal dilaksanakan pembangunan. Dengan kembalinya tenaga ahli Indonesia
yang menjalankan studi di luar negeri dan datangnya tenaga ahli (konsultan)
dari negara asing, proses globalisasi yang berupa pemikiran atau sistem nilai
kehidupan mulai diadopsi dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi di
Indonesia.Globalisasi secara fisik ditandai dengan perkembangan kota-kota yang
menjadi bagian dari jaringan kota dunia. Hal ini dapat dilihat dari
infrastruktur telekomunikasi, jaringan transportasi, perusahaan-perusahaan
berskala internasional serta cabang-cabangnya.
2.4 ciri ciri
globalisasi:
Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi
di dunia
·
Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan
barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet
menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara
melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal
dari budaya yang berbeda.
·
Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda
menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan
internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi
organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
·
Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media
massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga
internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan
pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya
dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
·
Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang
lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita
pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu.
Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita
turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang
ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan
ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter
Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.
Globalisasi budaya
antara nya sub-kebudayaan Punk, adalah contoh sebuah kebudayaan yang
berkembang secara global.Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada
di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan
sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang
dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal.
Baik nilai-nilai maupun
persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang
terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya
apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang
ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil
pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari
kebudayaan.
Globalisasi sebagai
sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia
(sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak
lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari
perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Lucian
W. Pye, 1966).
Namun, perkembangan
globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan
berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak
fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut
menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan
semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.
2.5 Faktor-faktor Terjadinya Globalisasi
Berkembang pesatnya
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi
terselenggaranya globalisasi. Dengan dukungan teknologi informasi dan
komunikasi, informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan, dapat
disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara
pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa.selain hal tersebut
globalisasi dapat terjadi karena hal lain seperti:
Globalisasi terjadi karena
faktor-faktor nilai budaya luar, seperti:
a. selalu meningkatkan pengetahuan b.etos kerja;
c. patuh hukum; d. kemampuan memprediksi;
e. kemandirian; f. efisiensi dan produktivitas;
g. keterbukaan; h. keberanian bersaing; dan
i. rasionalisasi; j. manajemen resiko.
a. selalu meningkatkan pengetahuan b.etos kerja;
c. patuh hukum; d. kemampuan memprediksi;
e. kemandirian; f. efisiensi dan produktivitas;
g. keterbukaan; h. keberanian bersaing; dan
i. rasionalisasi; j. manajemen resiko.
Globalisasi terjadi melalui berbagai
saluran, di antaranya:
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan;
b. lembaga keagamaan;
c. indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d. wisata mancanegara;
e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan;
b. lembaga keagamaan;
c. indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d. wisata mancanegara;
e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.
2.6 Pengaruh Positif dan Negatif Globalisasi
Seperti yang kita tahu bahwa globalisasi adalah proses
komplek yang digerakan oleh berbagai pengaruh sehingga mengubah kehidupan
sehari-hari terutama dinegara berkembang, dan pada saat yang sama ia
menciptakan system-system dan kekuatan trans nasional baru. Globalisasi juga
menimbulkan berbagai dampak yang merupakan permasalahan global. Dampak dari
globalisasi tersebut itu adalah:
-Dampak negatif
globalisasi yang terlihat/ terdetek; yaitu dampak buruk yang dapat dihindari sebelum
itu terjadi.
-Dampak positif
globalisasi yang terlihat/ terdetek; yaitu dampak positif/baik yang dapat
diperkirakan sebelum itu terjadi.
-Dampak negatif
globalisasi yang tidak terlihat/ tidak terdetek; dampak buruk yang tidak
diperkirakan dan tidak dapat dihindari sebelumnya. Dampak tersebut baru
disadari setelah efek buruknya terjadi.
-Dampak positif
globalisasi yang tidak terlihat/ tidak terdetek; dampak positif/baik yang tidak
dapat diperkirakan sebelumnya. Dampak tersebut baru disadari setelah
menguntungkan peradaban.
Oleh sebab itu sudah sepatutnya
penjelasan mengenai masalah globalisasi harus ditekankan, karena perbedaan
pendapat mengenai dampak globalisasi sudah sering terjadi di masyarakat kita
dewasa ini.
Dampak positif
globalisasi
1.
Produksi global dapat ditingkatkan
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
6.Kita dapat berkomunikasi dengan
teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone.
7. Kita mendapatkan layanan bank
yang dengan sangat mudah. Dan lain-lain.
8. Kita akan lebih cepat mendapatkan
informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui
internet. Internet inilah yang paling berpengaruh dalam kemajuan Globalisasi.
9.
Kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan
disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan
bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme
kita terhadap bangsa.
10. peningkatan
kecepatan, ketepatan, akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam
berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu, tenaga dan biaya. Sebagai contoh
manifestasi Teknologi Informasi yang mudah dilihat di sekitar kita adalah
pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat, karena kehadiran surat
elektronis (email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan
adanya komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa
dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database), dalam kegiatan
ekonomi sudah dilakukannnya E-banking, E-comerce,E-shopping dan masih banyak
lagi.
11. Teknologi informasi dan
komunikasi juga memiliki kinerja dalam hal sarana pembelajaran. Karena seperti
yang kita ketahui bahwa teknologi informasi dan komunikasi kini telah merasuk
ke dalam kurikulum dunia pendidikan. Suatu hal yang tentunya menjadi gebrakan
di dunia pendidikan dalam ajang peningkatan potensi pelajar. Selain itu
gelombang kemajuan dan perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan telah
membawa perubahan pada kehidupan dan gaya hidup pelajar yang lebih dinamis.
Dengan adanya hal tersebut, maka pelajar senantiasa menghidupkan dan
menyalurkan semangat untuk mengeksplorasi ilmu yang belum diketahui.
12.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam
beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju
13.
Tingkat Kehidupan yang lebih Baik Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat
komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi
penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Dampak negatif globalisasi di bidang ekonomi
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Pengaruh
baik globalisasi ekonomi
1. Produksi global dapat ditingkatkan
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
Keburukan globalisasi ekonomi
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
1. Produksi global dapat ditingkatkan
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
Keburukan globalisasi ekonomi
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Dampak Globalisasi Dalam Bidang Sosial Budaya
Globalisasi memengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.Semakin bertambah globalnya berbagai nilai budaya kaum kapitalis dalam masyarakat dunia. Merebaknya gaya berpakaian barat di negara-negara berkembang. Menjamurnya produksi film dan musik dalam bentuk kepingan CD/ VCD atau DVD.
Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
1. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
2. Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
3. Berkembangnya turisme dan pariwisata.
4. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
5. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.
6.Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA
Globalisasi memengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.Semakin bertambah globalnya berbagai nilai budaya kaum kapitalis dalam masyarakat dunia. Merebaknya gaya berpakaian barat di negara-negara berkembang. Menjamurnya produksi film dan musik dalam bentuk kepingan CD/ VCD atau DVD.
Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
1. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
2. Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
3. Berkembangnya turisme dan pariwisata.
4. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
5. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.
6.Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA
7.Persaingan bebas dalam bidang ekonomi
8.Meningkakan
interaksi budaya antar negara melalui perkembangan media massa.
* Dampak Globalisasi Dalam Bidang Politik
Negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Para pengambil kebijakan publik di negara sedang berkembang mengambil jalan pembangunan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. Timbulnya gelombang demokratisasi ( dambaan akan kebebasan ).
* Dampak Globalisasi Dalam Bidang Pendidikan
kalau kita perhatikan di era globalisasi yang dibutuhkan adalah bagaimana diri kita dapat diterima keberadaannya di belahan dunia manapun, dengan bekal sertifikat Nasional apakah cukup tentunya untuk menghadapi era globalisasi kita membutuhkan sertifikasi internasional sebagai pengakuan atas eksistensi kita di level internasional, sehingga kita dapat berselancar ke negara manapun dengan sertifikat internasional yang kita miliki.
mungkin ke depan, peserta didik lebih memilih Ujian Internasional yang Ijazahnya dapat dibanggakan dan dapat digunakan untuk melanjutkan studi ke luar negerti dan mendapat pengakuan secara internasional.
masalahnya adalah,Apakah sekolah siap menyelenggarakan pendidikan bertaraf Internasional untuk mendapat Ijazah Internasional? ,Apakah Guru sudah kompeten dalam menyelenggarakan pendidikan?Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti telah di sebutkan diatas dan yang lainnya seperti hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi
Negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Para pengambil kebijakan publik di negara sedang berkembang mengambil jalan pembangunan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. Timbulnya gelombang demokratisasi ( dambaan akan kebebasan ).
* Dampak Globalisasi Dalam Bidang Pendidikan
kalau kita perhatikan di era globalisasi yang dibutuhkan adalah bagaimana diri kita dapat diterima keberadaannya di belahan dunia manapun, dengan bekal sertifikat Nasional apakah cukup tentunya untuk menghadapi era globalisasi kita membutuhkan sertifikasi internasional sebagai pengakuan atas eksistensi kita di level internasional, sehingga kita dapat berselancar ke negara manapun dengan sertifikat internasional yang kita miliki.
mungkin ke depan, peserta didik lebih memilih Ujian Internasional yang Ijazahnya dapat dibanggakan dan dapat digunakan untuk melanjutkan studi ke luar negerti dan mendapat pengakuan secara internasional.
masalahnya adalah,Apakah sekolah siap menyelenggarakan pendidikan bertaraf Internasional untuk mendapat Ijazah Internasional? ,Apakah Guru sudah kompeten dalam menyelenggarakan pendidikan?Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti telah di sebutkan diatas dan yang lainnya seperti hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi
Pengaruh Globalisasi
terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Bangsa
Indonesia merupakan bagian dari bangsa di dunia. Sebagai bangsa, kita tidak
hidup sendiri melainkan hidup dalam satu kesatuan masyarakat dunia (world
society). Kita semua merupakan makhluk yang ada di bumi. Karena itu,
manusia secara alam, sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan budaya tidak dapat
saling terpisah melainkan saling ketergantungan dan mempengaruhi.Era
globalisasi yang merupakan era tatanan kehidupan manusia secara global telah
melibatkan seluruh umat manusia. Secara khusus gelombang globalisasi itu
memasuki tiga arena penting di dalam kehidupan manusia, yaitu arena ekonomi,
arena politik, dan arena budaya.Jika masyarakat atau bangsa tersebut tidak siap
menghadapi tantangan-tantangan global yang bersifat multidimensi dan tidak
dapat memanfaatkan peluang, maka akan menjadi korban yang tenggelam di
tengah-tengah arus globalisasi.Dari sisi politik, gelombang globalisasi yang
sangat kuat yakni gelombang demokratisasi. Sesudah perang dingin dan rontoknya
komunisme, umat manusia menyadari bahwa hanya prinsip-prinsip demokrasi yang
dapat membawa manusia kepada taraf kehidupan yang lebih baik. Angin
demokratisasi telah merasuk ke dalam hati rakyat di setiap negara. Mereka
melakukan gerakan sosial dengan menggugat dan melawan sistem pemerintahan
diktator atau pemerintahan apapun yang tidak memihak rakyat.Kasus serupa juga
terjadi di Indonesia, yaitu dengan runtuhnya rezim pemerintahan Orde Lama dan
runtuhnya rezim pemerintahan Orde Baru. Di Indonesia sejak bergulirnya
reformasi, gelombang demokratisasi semakin marak dan tuntutan akan keterbukaan
politik semakin terlihat.Dari sisi budaya, era globalisasi ini membawa beraneka
ragam budaya yang sangat dimungkinkan mempengaruhi pola pikir, tingkah laku,
dan sistem nilai masyarakat suatu negara. Oleh karena itu, kita seharusnya waspada
dan pandai menyiasati pengaruh budaya silang sehingga bangsa kita dapat
mengambil nilai budaya yang positif yaitu mengambil nilai budaya yang
bermanfaat bagi kehidupan dan pembangunan bangsa serta tidak terjebak pada
pengaruh-pengaruh budaya yang negatif. Kita juga harus belajar melihat dunia
dari perspektif yang berbeda sesuai dengan kepentingan dan tujuan masing-masing
tanpa melunturkan nilai identitas budaya bangsa kita. Dengan memahami perbedaan
dan persamaan kebudayaan tadi akan menumbuhkan saling pengertian dan saling
menghargai antar kebudayaan yang ada.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan Indonesia
Globalisasi
adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas
wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang
dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya
sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi
bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)
Menurut pendapat Krsna
(Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara
Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi
berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi
ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam
interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua
bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah
faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi
begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan
dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat
kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi
tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia.
Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh
negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan
politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi
nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Pengaruh positif
globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Dilihat dari globalisasi
politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena
pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan
secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari
rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara
menjadi meningkat
2. Dari
aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan
kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut
akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional
bangsa.
3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola
berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari
bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada
akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap
bangsa.
Pengaruh negatif
globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
1. Globalisasi
mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan
dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi
Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa
nasionalisme bangsa akan hilang
2. Dari
globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri
karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza
Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk
dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita
terhadap bangsa Indonesia.
3. Mayarakat
kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa
Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh
masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4. Mengakibatkan
adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya
persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan
pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan
nasional bangsa.
5. Munculnya sikap
individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga.
Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan
bangsa.
Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung
berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat
menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang.
Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di
luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk
diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila
dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap
tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas
nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pengaruh Globalisasi
Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu
cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh
globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut
telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa
Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam
kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian
banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke
budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan
bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut
jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut
mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang
lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau
melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan
kepribadian bangsa.
Teknologi internet
merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses
oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka
sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat
yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini,
banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk
membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib
mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada
karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap,
banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung
cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut
kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh
riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang
menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Moral generasi bangsa
menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan
nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya
bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda
adalah penerus masa depan bangsa.
2.7 Cara Mencegah Dampak Bahaya Global
Berdasarkan analisa dan
uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh
positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh
negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme. Langkah- langkah untuk
mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
antara lain yaitu :
1. Menumbuhkan
semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam
negeri.
2. Menanamkan
dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3. Menanamkan
dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4. Mewujudkan
supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya
dan seadil- adilnya.
5. Selektif
terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial
budaya bangsa.
Kemajuan peradaban dan
derap langkah pembangunan merupakan dua hal yang umumnya berjalan secara
beriringan. Melalui berbagai aktifitas pembangunan itu manusia meningkatkan
kualitas kehidupan, mengkonstruksi tata-nilai kehidupan dan akhirnya membentuk
sebuah peradaban. Di era abad 21 sekarang ini, perkembangan derap peradaban
manusia itu telah mencapai suatu kondisi yang dicirikan dengan adanya interaksi
yang semakin intensif antar umat manusia, yang secara umum era seperti ini
sering kita sebut sebagai “era globalisasi”.
Kondisi keterhubungan
(interconnectedness) antarmanusia itu memberikan berbagai pengaruh dalam
pembangunan peradaban era global. Harus diakui bahwa dibalik berbagai pengaruh
itu terdapat kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh, namun di sisi lain era globalisasi
ini menghadirkan berbagai tantangan/ permasalahan, yang hampir seluruh
permasalahan itu adalah hasil dari intensitas interaksi antarmanusia di
berbagai belahan bumi yang terus meningkat.
Pada era Globalisasi sekarang ini terjadi banyak peningkatan kualitas di segala bidang, menurut data dari WHO (World Health Organization), usia harapan hidup rata-rata umat manusia di dunia, yang di tahun 1955 adalah 48 tahun telah meningkat menjadi 62 tahun di tahun 2000. Selain itu, umat manusia pada era Globalisasi ini juga semakin terdidik yang ditunjukkan oleh data dari UNESCO yaitu jika di tahun 1970 masih ada 37% dari penduduk dunia yang buta huruf, jumlah itu sudah menurun menjadi hanya sekitar 18% penduduk dunia yang buta huruf di tahun 2004. Umat manusia saat ini juga dapat menikmati tatanan dunia yang relatif lebih damai dan secara geopolitis juga lebih stabil dibandingkan dengan beberapa era sebelumnya.
Pada era Globalisasi sekarang ini terjadi banyak peningkatan kualitas di segala bidang, menurut data dari WHO (World Health Organization), usia harapan hidup rata-rata umat manusia di dunia, yang di tahun 1955 adalah 48 tahun telah meningkat menjadi 62 tahun di tahun 2000. Selain itu, umat manusia pada era Globalisasi ini juga semakin terdidik yang ditunjukkan oleh data dari UNESCO yaitu jika di tahun 1970 masih ada 37% dari penduduk dunia yang buta huruf, jumlah itu sudah menurun menjadi hanya sekitar 18% penduduk dunia yang buta huruf di tahun 2004. Umat manusia saat ini juga dapat menikmati tatanan dunia yang relatif lebih damai dan secara geopolitis juga lebih stabil dibandingkan dengan beberapa era sebelumnya.
Dari perspektif
kesejahteraan, juga dapat dikatakan bahwa kesejahteraan manusia sekarang
relatif lebih baik. Data dari UNDP (United Nation Development Program)
menyatakan bahwa di tahun 2006 lalu pertumbuhan perekonomian dunia mencapai
5,4% dan pendapatan bruto dunia mencapai US$ 66 Trilyun jika dihitung
berdasarkan skala PPP (Purchasing Power Parity). Dengan tingkat pertumbuhan
penduduk sebesar 1,1% di tahun itu, maka UNDP menyatakan bahwa pendapatan per
kapita dunia naik rata-rata sebesar 4,3%. Dengan capaian seperti itu, maka umat
manusia boleh optimis bahwa di tahun 2015, jumlah orang miskin di seluruh dunia
dapat dikurangi sampai separuhnya, atau dengan kata lain agenda pembangunan
milenium atau Millenium Development Goals (MDG) dapat diharapkan untuk tercapai
sasarannya tepat waktu. Oleh karena itu, tampaknya peradaban dunia pada era
globalisasi ini sudah berjalan sesuai dengan track atau jalur yang diharapkan
untuk mencapai tujuan-tujuan luhur yang diinginkan secara kolektif oleh seluruh
umat manusia.
Meskipun demikian umat
manusia di era globalisasi sekarang ini juga menghadapi berbagai tantangan permasalahan
peradaban yang tidak sedikit dan bahkan berpotensi untuk mengancam jalannya
pembangunan berskala global untuk tercapainya kemaslahatan umat manusia.
Meskipun pendapatan dunia itu meningkat, namun harus diakui bahwa kesenjangan
antara kelompok manusia dengan kesejahteraan yang tinggi dengan kelompok
manusia dengan kesejahteraan rendah semakin lebar. Data dari UNDP memaparkan
bahwa di tahun 2006, sebanyak 2% dari orang-orang terkaya di dunia menguasai
50% sumber daya di seluruh dunia dan analisa dari majalah Fortune 500 edisi
akhir tahun 2006 pernah menyatakan bahwa penghasilan bersih dari 225 orang
terkaya di dunia hampir sama dengan pendapatan nasional dari 40% negara miskin
dan negara berkembang yang ada di seluruh dunia.
Pada intinya secara umum
permasalahan globalisasi memiliki dua sifat yaitu:
Unsur interrelasi yang
sangat kuat, artinya permasalahan globalisasi itu, sangat berpautan erat antara
satu negara dengan beberapa negara lain. Meskipun masalah- masalah itu pada
mulanya dijumpai hanya di satu atau beberapa negara akan tetapi lambat laun
akan terjadi di seluruh negara di berbagai belahan bumi. Apalagi dengan
kemajuan teknologi transportasi dan teknologi telekomunikasi dan informasi yang
telah menyebabkan interaksi antar manusia baik secara nyata maupun maya semakin
meningkat, maka penyebaran dari permasalahan globalisasi itu diperkirakan akan
semakin cepat.
Keterjangkauan berskala
global (global coverage), artinya permasalahan globalisasi itu, dapat menyebar
ke seluruh dunia, dan memberikan dampak yang juga berskala dunia/global. Harus
diakui bahwa kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi, dan transportasi
berperan besar untuk mendiseminasikan permasalahan globalisasi itu ke berbagai
belahan bumi.
Dengan adanya dua sifat
itu, maka dapat dikatakan bahwa gejala keterhubungan (interconnectedness)
antara berbagai masalah globalisasi dengan hubungan antar bangsa telah semakin
meningkat, dan hal itu sebenarnya adalah sebuah konsekuensi logis dari
globalisasi yang memang pada akhirnya akan membawa manusia untuk menjadi
semakin mudah dan semakin sering berinteraksi. Namun di pihak lain, sifat
jangkauan global dan dampak masalah globalnya juga harus diwaspadai.
Dalam dunia yang semakin
mengglobal dan diperkirakan akan terus mengglobal di abad-abad berikutnya, maka
berbagai masalah yang diawali pada suatu lokasi di belahan bumi tertentu dapat
memberikan dampaknya ke seluruh planet bumi dan bahkan bagi seluruh umat
manusia. Oleh karena itu, maka budaya peradaban di era globalisasi sekarang ini
harus diarahkan pada suatu asas komplementasi (complementary thinking) atau
pola pikir untuk saling melengkapi.
Asas komplementasi itu
pada hakekatnya sejalan dengan kompleksitas permasalahan di era global, yang
menunjukkan semakin meningkatnya pertautan antara satu kepentingan dengan
kepentingan lain yang, mau tidak mau, telah mendorong umat manusia untuk
semakin saling bergantung atau interdependen satu sama lain.
Pada dasarnya ada tiga
prinsip penting yang harus dijadikan acuan dalam pengembangan asas komplementer,
yaitu:
1.
Prinsip Keseimbangan
(Equality)
Yang dimaksud dengan prinsip keseimbangan
adalah bahwa masing-masing pihak yang terlibat dalam asas komplementer harus
bersedia untuk berbagi kepentingan (interest) yang dimilikinya dengan
kepentingan pihak lain. Berbagi kepentingan di sini didasari oleh pemahaman
bahwa tantangan di era globalisasi bersifat sangat kompleks, saling berpautan
dan masing-masing bangsa di belahan bumi ini memiliki kapasitasnya
masing-masing yang khas, yang unik dan memiliki kontribusi yang setara dalam
porsinya masing-masing, untuk memberikan solusi yang bersifat komprehensif dan
berskala global.
2. Prinsip jangka panjang (eternity)
Yang dimaksud dengan
prinsip jangka panjang adalah bahwa asas komplementer untuk menghadapi
tantangan peradaban yang berskala global itu, harus dilaksanakan dengan
komitmen untuk terus menindaklanjutinya dalam skala jangka panjang. Hal itu
karena kondisi keterpautan dan kondisi saling bergantung antar umat manusia
justru akan semakin meningkat di masa datang. Masalah globalisasi adalah
masalah yang penyelesaiannya membutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh
bangsa di dunia. Tanpa adanya komitmen jangka panjang, maka bentuk solusi
apapun yang diberikan tidak akan efektif.
3. Prinsip pembelajaran-kolektif (collective learning)
Yang dimaksud dengan
pembelajaran kolektif bukanlah memisahkan diri/ menghindari dari pengaruh asing
(barat). Akan tetapi Prinsip pembelajaran-kolektif adalah adanya semangat dan
mentalitas dari segenap bangsa untuk menjadikan kondisi saling melengkapi itu
sebagai sebuah forum pembelajaran. Hal ini didasari oleh prinsip, bahwasanya
negara atau bangsa mana pun di dunia memiliki fiturnya masing-masing yang
semuanya diperlukan untuk memberikan solusi yang tepat dari berbagai tantangan
masa depan. Tentu saja pembelajaran kolektif ini hanya dimungkinkan jika
masing-masing negara/bangsa mau berbagi kepentingan antara satu dengan lainnya.
Dengan adanya pembelajaran kolektif ini, maka kondisi saling ketergantungan itu
justru akan menjadi insentif bagi masing-masing negara/bangsa di dunia untuk
mengembangkan kapasitasnya masing-masing khususnya dalam mengatasi tantangan di
era globalisasi. Jadi seperti yang dipaparkan pada pembahasan “Masalah
globalisasi” diatas, yaitu tidak perlu bersolusi pada patokan “cara mengatasi
masalah globalisasi” karena itu hanya menimbulkan keterbatasan pembelajaran.
Jika pembelajaran terbatas maka mana mungkin kita dapat kolektif terhadap
Globalitas yang terjadi.
Ketiga prinsip tersebut
harus ada pada asas komplementasi. Karena tanpa adanya ketiga prinsip itu, maka
asas komplementasi tidak akan memberikan banyak manfaat, justru yang terjadi
adalah, asas itu hanya akan dimanfaatkan oleh negara/bangsa tertentu untuk
mengatur dan mengendalikan bangsa/negara lain. Sehingga bukan solusi yang akan
dihasilkan, namun justru berpotensi menghadirkan masalah baru yaitu
neo-kolonialisme. Ada pun bentuk perwujudan dari asas komplementasi adalah
sebuah rangkaian pola tindak yang mendorong adanya berbagai aktifitas
kerjasama, kemitraan (partnerships) dan hal-hal sejenis, yang sangat diperlukan
untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang akan terjadi di era globalisasi
itu seiring dengan semangat bahwa tantangan global harus diatasi dengan
aktifitas global. Oleh karena itu jangan takut menghadapi globalisasi(dampak
negatif yang terlihat),sebab rasa takut dan was-was akan secara otomatis
membuat kita menghindar dari salah satu efek global(mungkin yang menurut kita
negatif), maka yang terjadi adalah keterbelakangan kita di dalam era global
yang sudah maju sehingga menyebabkan masalah yang lebih berat lagi.
Peranan Asas Komplementasi
Peran asas komplementasi
dalam pengembangan peradaban era globalisasi itu nantinya adalah untuk
memfasilitasi terlaksananya proses inovasi terbuka (open innovation), yaitu
sebuah proses inovasi yang hanya dimungkinkan melalui suatu kerjasama yang
intensif antara berbagai pihak yang berbeda. Melalui inovasi terbuka itu
diharapkan dapat diperoleh berbagai alternatif solusi yang terbaik untuk
mengantisipasi sejumlah tantangan di era ini.
Ada tiga fitur penting dari inovasi terbuka, yaitu:
a.
Transparansi
(transparency)
Inovasi terbuka dihasilkan melalui kerjasama
yang intensif antara beberapa pihak (termasuk juga beberapa negara, dalam
menghadapi isu global). Dengan demikian, maka proses dari inovasi itu menjadi
lebih transparan karena masing-masing pihak yang terlibat didalamnya memiliki
akses yang setara dalam setiap langkah dalam proses inovasi itu. Sebagai misal,
sebuah proses inovasi terbuka untuk memproduksi vaksin anti virus H5N1 yang
menyebabkan penyakit flu burung akan menjadikan adanya kesetaraan antara
negara-negara yang telah maju dalam bidang teknologinya dengan negara-negara
lain yang belum maju, akan tetapi sanggup menyediakan bahan baku berupa sampel
virus tersebut. Sehingga produk vaksin yang dihasilkan akan memberikan manfaat
yang lebih setara sesuai dengan agenda yang disepakati bersama.
b. Menyeluruh
(comprehensiveness)
Proses inovasi terbuka
menuntut adanya peninjauan dari berbagai aspek dalam setiap langkah untuk
memproduksi inovasi. Atau kata lain, dalam proses inovasi terbuka, tidak saja
aspek ekonomi dan finansial yang diperhitungkan, akan tetapi juga aspek sosial
dan lingkungan hidup. Hal itu karena inovasi terbuka merupakan aktifitas yang
dilakukan secara kolektif, dengan para peserta yang umumnya memiliki kondisi
yang beragam. Sebagai misal untuk merancang sebuah inovasi terbuka guna
mengatasi efek gas rumah kaca yang menghasilkan pemanasan global maka ketika
negara-negara maju dengan teknologinya yang lebih ramah lingkungan bekerjasama
dengan negara-negara berkembang dengan teknologi yang lebih terbelakang, namun
memiliki potensi perlindungan lingkungan yang lebih baik, misalnya areal hutan
yang luas dan cadangan air bersih yang lebih banyak, maka kedua belah pihak,
baik negara maju maupun negara berkembang, mau tidak mau, harus mengedepankan
berbagai aspek dan tidak mungkin kalau hanya mengedepankan aspek keuntungan
ekonomi semata.
c. Kesesuaian
(adaptability)
Karena inovasi terbuka
itu prosesnya dilakukan secara bersama-sama dengan mengikutsertakan kepentingan
berbagai pihak, maka tentunya hasil dari proses inovasi itu akan lebih cocok
dan lebih sesuai untuk diterapkan oleh para pesertanya. Terkadang terjadi
kasus, dimana inovasi yang dihasilkan hanya cocok untuk peserta tertentu akan
tetapi kurang tepat untuk diterapkan bagi peserta lainnya. Sebagai misal, untuk
masalah ketersediaan energi, solusi dengan menawarkan alternatif sumber energi
terbarukan, misalnya, sumber energi angin, gelombang laut atau sinar matahari
tentunya sangat bergantung pada kondisi fisis dari negara-negara tertentu saja.
Dalam tatanan dunia
global sekarang ini hal yang paling perlu untuk diperhitungkan adalah
menjadikan proses inovasi terbuka itu sebagai arena pembelajaran, sehingga
dapat diperoleh manfaat sebanyak mungkin. Tanpa adanya pembelajaran maka suatu
bangsa hanya akan memperoleh manfaat yang terbatas dari proses inovasi terbuka
atau bahkan globalisasi itu sendiri.
Termasuk juga dalam kawasan globalisasi kebudayaan, globalisasi kebudayaan memang merupakan universalisme kebudayaan, namun universalisme yang tertuang dalam globalisasi tetap mempunyai sebuah system yang mengatur dan mengarahkannya, sehingga globalitas kebudayaan tersebut tidak menimbulkan pertentangan dari teory relativisme dari kaum radikal yang menganggap sesuatu yang baru muncul pada era globalisasi akan benar-benar mengubah dunia secara radikal dan menghancurkan kebudayaan-kebudayaan lokal.
Termasuk juga dalam kawasan globalisasi kebudayaan, globalisasi kebudayaan memang merupakan universalisme kebudayaan, namun universalisme yang tertuang dalam globalisasi tetap mempunyai sebuah system yang mengatur dan mengarahkannya, sehingga globalitas kebudayaan tersebut tidak menimbulkan pertentangan dari teory relativisme dari kaum radikal yang menganggap sesuatu yang baru muncul pada era globalisasi akan benar-benar mengubah dunia secara radikal dan menghancurkan kebudayaan-kebudayaan lokal.
Dengan adanya langkah-
langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi
yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak
akan kehilangan kepribadian bangsa. Secara umum dampak globalisasi saat ini terjadi
pergeseran ideologi dan politik. Dampak negatif, terjadinya pemiskinan
spiritual, di mana tindakan sosial dianggap sebagai tindakan yang tidak
rasional, nafsu hawaniayah menjadi pemandu kehidupan, agama hanya hadir dalam
pikiran, lisan dan tulisan, akan tetapi tidak hadir dalam perilaku dan
tindakan. Secara umum dampak globalisasi saat ini terjadi pergeseran ideologi
dan politik. Dampak negatif, terjadinya pemiskinan spiritual, di mana tindakan
sosial dianggap sebagai tindakan yang tidak rasional, nafsu hawaniayah menjadi
pemandu kehidupan, agama hanya hadir dalam pikiran, lisan dan tulisan, akan
tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan. Untuk menangkal dampak negatif
globalisasi, diperlukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan pendidikan
yang diimplikasikan dengan membangun pendidikan sekolah, madrasah yang
berkualitas, meningkatkan pendidikan formil dan spiritual ke pelosok-pelosok
dan pedalaman.“Jadikan sekolah-sekolah kita rebutan, bukan pelarian, sekolah
kita selalu dirindukan bukan dikomersilkan, bagaimana sekolah bisa
mensejahterakan bukan menambah kesengsaraan “( Nizar Syarif )“dahulu berjuang
melawan musuh penjajahan dengan berlumuran darah, kini musuh sudah masuk ke
kamar tidur, sudut-sudut rumah tidak melumurkan darah, tapi melumurkan moral
seperti masuknya tayangan sinetron televisi yang merusak moral.”Sebagai dampak
negatif globalisasi, sebagian keluarga sebagai unit terkecil kehilangan fungsinya
sebagai tempat pembinaan, ikatan moral semangkin lemah dan keluarga hanya
dianggap sebagai tempat singgah. Oleh karena itu kita supaya memperdalam kajian
ilmu pengetahuan, tingkatkan pembinaan keluarga, kewaspadaan gerakan yang
mengancam Ideologi Pancasila, gerakan yang membahayakan aqidah islamiyah dan
akhlakul karimah, maka kita semua sebagai warga Indonesia wajib membanggakan
apa saja yang sudah menjadi budaya kita sendiri”, jangan sampai melupakan
budaya lama dengan sudah menemukan budaya baru.Masuknya budaya asing ke suatu
negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai
dengan kepribadian bangsa namun kita harus tetap menjaga agar budaya kita tidak
luntur. Langkah-langkah untuk mengantisipasinya adalah antara lain dengan cara,
Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk
dalam negeri, Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik-
baiknya, Melaksanakan ajaran Agama dengan sebaik- baiknya dan Selektif terhadap
pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya
bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian
maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun
demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan
kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara
lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.Kemudian tingkatkan
kurikulum pendidikan berwawasan, serta jabarkan nilai-nilai Al Quran dan hadis bagi
yang beragama islam di dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi.
Pancasila Dalam Menghadapi Globalisasi
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang sudah
ditentukan oleh para pendiri negara ini haruslah menjadi sebuah acuan dalam
menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara,berbagai tantangan dalam
menjalankan ideologi pancasila juga tidak mampu untuk menggantikankan pancasila
sebagai ideologi bangsa Indonesia,pancasila terus dipertahankan oleh segenap
bangsa Indonesia sebagai dasar negara,itu membuktikan bahwa pancasila merupakan
ideologi yang sejati untuk bangsa Indonesia.
Oleh karena itu tantangan di era globalisasi yang bisa
mengancam eksistensi kepribadian bangsa,dan kini mau tak mau,suka tak suka
,bangsa Indonesia berada di pusaran arus globalisasi dunia. Tetapi harus
diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia tak mesti kehilangan jatidiri,kendati
hidup ditengah-tengah pergaulan dunia.Rakyat yang tumbuh di atas kepribadian
bangsa asing mungkin saja mendatangkan kemajuan, tetapi kemajuan tersebut akan
membuat rakyat tersebut menjadi asing dengan dirinya sendiri. Mereka kehilangan
jatidiri yang sebenarnya sudah jelas tergambar dari nilai-nilai luhur
pancasila.
Dalam arus globalisasi saat ini dimana tidak ada lagi
batasan-batasan yang jelas antar setiap bangsa Indonesia,rakyat dan bangsa
Indonesia harus membuka diri. Dahulu,sesuai dengan tangan terbuka menerima
masuknya pengaruh budaya hindu,islam,serta masuknya kaum barat yang akhirnya
melahirkan kolonialisme. Pengalaman pahit berupa kolonialisme tentu sangat
tidak menyenangkan untuk kembali terulang. Patut diingat bahwa pada zaman
modern sekarang ini wajah kolonialisme dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk
fisik, tetapi dalam wujud lain seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski
tidak berwujud fisik, tetapi penguasaan politik dan ekonomi nasional oleh pihak
asing akan berdampak sama seperti penjajahan pada masa lalu, bahkan akan terasa
lebih menyakitkan.
Dalam pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang
menutup diri rapat-rapat dari dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh
kemajuan zaman dan kemajuan bangsa-bangsa lain. Bahkan, negara sosialis seperti
Uni Soviet—yang terkenal anti dunia luar—tidak bisa bertahan dan terpaksa
membuka diri. Maka, kini, konsep pembangunan modern harus membuat bangsa dan
rakyat Indonesia membuka diri. Dalam upaya untuk meletakan dasar-dasar
masyarakat modern, bangsa Indonesia bukan hanya menyerap masuknya modal,
teknologi, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan, tetapi juga terbawa masuk
nilai-nilai sosial politik yang berasal dari kebudayaan bangsa lain. Yang
terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia mampu menyaring agar
hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa
saja yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai apalagi
merusak tata nilai budaya nasional mesti ditolak dengan tegas. Kunci jawaban
dari persoalan tersebut terletak pada Pancasila sebagai pandangan hidup dan
dasar negara. Bila rakyat dan bangsa Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai
luhur bangsa, maka nilai-nilai atau budaya dari luar yang tidak baik akan
tertolak dengan sendirinya. Cuma, persoalannya, dalam kondisi yang serba
terbuka seperti saat ini justeru jati diri bangsa Indonesia tengah berada pada titik
nadir.
Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak
mengenal dirinya sendiri sehingga budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang
sesuai maupun tidak sesuai terserap bulat-bulat. Nilai-nilai yang datang dari
luar serta-merta dinilai bagus, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah
tertanam sejak lama dalam hati sanubari rakyat dinilai usang. Lihat saja sistem
demokrasi yang kini tengah berkembang di Tanah Air yang mengarah kepada faham
liberalisme. Padahal, negara Indonesia—seperti ditegaskan dalam pidato Bung
Karno di depan Sidang Umum PBB—menganut faham demokrasi Pancasila yang
berasaskan gotong royong, kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat.
Sistem politik yang berkembang saat ini sangat
gandrung dengan faham liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik
berdasarkan Pancasila yang seharusnya dibangun dan diwujudkan rakyat dan bangsa
Indonesia. Terlihat jelas betapa demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa
batas. Hak asasi manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat
semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya
dari luar, khususnya faham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati
diri bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba
liberal memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian.
Akibatnya, seperti terlihat saat ini, konstelasi politik nasional serba tidak
jelas. Para elite politik tampak hanya memikirkan kepentingan dirinya dan
kelompoknya semata.
Dalam kondisi seperti itu—sekali lagi—peran Pancasila
sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila
akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan
nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang
nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap
bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan
mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan
hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang
dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut .
Dalam pandangan hidup terkandung konsep mengenai dasar
kehidupan yang dicita-citakan suatu bangsa. Juga terkandung pikiran-pikiran
terdalam dan gagasan suatu bangsa mengenai wujud kehidupan yang dicita-citakan.
Pada akhirnya pandangan hidup bisa diterjemahkan sebagai sebuah kristalisasi
dari nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa yang diyakini kebenarannya serta
menimbulkan tekad bagi bangsa yang bersangkutan untuk mewujudkannya. Karena
itu, dalam pergaulan kehidupan berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia tidak
bisa begitu saja mencontoh atau meniru model yang dilakukan bangsa lain, tanpa
menyesuaikan dengan pandangan hidup dan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri.
2.8 Peran Pemerintah Dalam Globalisasi
2.9 Masyarakat Dalam Menghadapi Globalisasi
Masyarakat
Indonesia adalah masyarakat sangat ramah ,menghargai perbedaan, menghormati
antar sesama dan berakhlak baik. Dalam menyelesaikan masalahpun masyarakat
Indonesia selalu dengan musyawarah ,sehingga mencapai persetujuan yang sama .
tetapi sekarang masyarakat indonesia sangat berbeda dengan apa yang saya
sebutkan tadi. Saat ini masyarakat Indonesia mengalami krisis moral sehingga
mereka berpikir pendek, tidak menghargai perbedaan, sangat labil emosinya dan
malas. Mengapa hal ini terjadi ? hal ini terjadi dikarenakan masyarakat sulit
menyaring informasi dari media seperti TV, Internet dan lain lain. Informasi
yang baik dan buruk mereka terima begitu saja dan di aplikasikan di kehidupan
mereka . faktor lainnya , dikarenakan pembangunan ekonomi yang tidak merata,
hidup tidak sejahtera dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya.
Akibat adanya globalisasi pada teknologi terdapat dampak buruk dan baik
sehingga kita perlu berhati hati .Kita perlu waspada terhadap informasi yang
kita terima. Tidak semua informasi harus kita terima begitu saja dan dilakukan
di kehidupan . banyak budaya luar yang seharunya kita tidak dapatkan, misalkan
gaya hidup yang kurang baik , etika berbicara yang kasar, mengikuti mode
pakaian yang terlalu terbuka dan lain lain yang menyebabkan hilangnya budaya
pancasila dan aturan agama yang diabakan, hal ini sudah di rasakan dengan fakta
fakta yang terjadi dilingkungan kita misalnya dimanfaatkan teknologi informasi
sebagai sarana untuk melakukan penipuan , melakukan penghinaan terhadap
agama/SARA , pornographi dan mempelajari hal yang tidak baik. Hal itu
disebabkan kemajuan teknologi pada system jaringan yang tidak di saring
informasi buruknya. dampak baik adanya globalisasi, komunikasi dapat dilakukan
dengan cepat. Teknologi selalu berkembang dengan pesat, komputer dan handphone
sebagai sarana nomor satu dalam mencari informasi , pemahaman masyarakat
terhadap internet semakin tinggi dalam jaringan serta pemanfaat komputer dan
sistemnya, semakin kreatifnya anak bangsa dalam melakukan proses pembelajaran,
mempermudah pekerjaan misalnya internet banking, membeli barang,
bersosialisasi, mencari pekerjaan dan info lainnya.
Manusia yang baik adalah manusia yang memahami apa yang baik dan buruk bagi
orang lain sehingga menghindari yang buruk dan mencari hal yang baik demi
mendapatkan lingkungan yang sejahtera bagi orang lain dan dirinya . Namun
dengan berkembangnya teknologi misalnya system komputer , teknologi informasi
dan globalisasi yang sudah ada sejak dahulu. Banyak dimanfaatkan masyarakat
untuk hal yang kurang bermanfaat dan tidak baik. Dalam menghadapi informasi
yang kita dapatkan, kita harus mencerna dan membiasakan diri mencari informasi
seakan akan untuk mencari pengetahuan dan ilmu Untuk mewujudkan hal tersebut
maka kita harus mengetahui dampak yang akan terjadi jika melakukan hal yang
negatif akbiat dari informasi yang tidak baik. Selain itu peran orang tua
juga sangat penting oleh sebab itu sebaiknya orang tua lebih memahami teknologi
komputer dan internet dari pada anaknya , agama serta pendidikan juga sangat
penting. Dengan mempelajari agama dan memperbanyak waktu untuk belajar maka
seseorang akan lebih focus kepada kegiatannya . dengan kegiatan tersebut saya
yakin masyarakat indonesia akan menjadikan masyarakat yang cerdas bukan hanya
kecerdasan IQ nya saja ,namun kecerdasan ESQ pun akan tinggi, sehingga akan
dapat menyaring informasi yang buruk dan mengambil informasi yang baik saja .
Jadi dengan fenomena Globalisasi interaksi antara manusia , manusia dengan
informasi , yang menyebabkan manusia terpengaruh oleh informasi tersebut akan
berkurang bahkan tidak ada jika kita menerapkan kegiatan agama, pembelajaran
dan bimbingan orang tua . dalam hal kemajuan teknologi juga kita harus mendidik
anak bangsa agar memanfaatkannya dengan baik , alangkah baiknya jika sekolah
sekolah memberi edukasi menghadapi dunia era Globalisasi dan kemajuan teknologi
informasi yang selama ini tidak pernah dan jarang dilakukan oleh lembaga
pendidikan
Dengan demikian dalam menghadapi Globalisasi demi menjaga budaya , perilaku dan
jiwa kita harus menjadi orang yang cerdas dalam mendapatkan informasi agar
tidak terpengaruh budaya kurang baik . oleh sebab itu dibutuhkan usaha dari
pemerintah, masyarakat dan dari diri kita sendiri . agar dapat memanfaatkan
teknologi yang sangat modern dan canggih dengan sebaik baiknya
2.10 Pengertian Moral
Moralitas
berasal dari kata dasar “moral” berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan.
Kata “mores” yang berarti kesusilaan, dari “mos”, “mores”. Moral adalah ajaran
tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan
lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang
tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.Moral secara
etimologi diartikan: a) Keseluruhan kaidah-kaidah kesusilaan dan kebiasaan yang
berlaku pada kelompok tertentu, b) Ajaran kesusilaan, dengan kata lain ajaran
tentang azas dan kaidah kesusilaan yang dipelajari secara sistimatika dalam
etika. Dalam bahasa Yunani disebut “etos” menjadi istilah yang berarti norma,
aturan-aturan yang menyangkut persoalan baik dan buruk dalam hubungannya dengan
tindakan manusia itu sendiri, unsur kepribadian dan motif, maksud dan watak
manusia. kemudian “etika” yang berarti kesusilaan yang memantulkan bagaimana
sebenarnya tindakan hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan yang buruk.
Moralitas yang secara leksikal dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang
mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia
dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun
dapat mewujudkannya, atau suatu azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup
bermasyarakat.Secara terminologi moralitas diartikan oleh berbagai tokoh dan
aliran-aliran yang memiliki sudut pandang yang berbeda: Franz Magnis Suseno
menguraikan moralitas adalah keseluruhan norma-norma, nilai-nilai dan sikap
seseorang atau sebuah masyarakat. Menurutnya, moralitas adalah sikap hati yang
terungkap dalam perbuatan lahiriah (mengingat bahwa tindakan merupakan ungkapan
sepenuhnya dari hati), moralitas terdapat apabila orang mengambil sikap yang
baik karena Ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan ia mencari
keuntungan. Moralitas sebagai sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa
pamrih.
W.
Poespoprodjo, moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu
kita berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk atau dengan
kata lain moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan
manusia.
Immanuel
Kant, mengatakan bahwa moralitas itu menyangkut hal baik dan buruk, yang dalam
bahasa Kant, apa yang baik pada diri sendiri, yang baik pada tiap pembatasan
sama sekali. Kebaikan moral adalah yang baik dari segala segi, tanpa
pembatasan, jadi yang baik bukan hanya dari beberapa segi, melainkan baik
begitu saja atau baik secara mutlak.
Emile Durkheim mengatakan, moralitas
adalah suatu sistem kaidah atau norma mengenai kaidah yang menentukan tingka
laku kita. Kaidah-kaidah tersebut menyatakan bagaimana kita harus bertindak
pada situasi tertentu. Dan bertindak secara tepat tidak lain adalah taat secara
tepat terhadap kaidah yang telah ditetapkan.Moral, saat ini jelas sekali
masyarakat sedang mengalami degradasi moral, yang diakibatkan oleh situasi
pelik politik Indonesia sehingga kita sebagai masyarakat mendapatkan imbasnya/dampaknya.
Seperti halnya negara mengalami krisis ekonomi, maka masyarakat akan mengalami
dampaknya. Begitu juga dengan krisis moral yang disadari maupun tidak
masyarakat akan mengalami efeknya.Kita prihatin dengan kondisi tatanegara, lalu
kita lampiaskan dengan sumpah serapah juga cacimakian, atau bahkan yang lebih
jauh menghina bangsa sendiri. Maka bisa disebutkan kitapun mengalami penurunan
moral. Namun saat bicara tentang moral.Moralitas (dari "cara, karakter,
perilaku yang tepat" Latin moralitas) adalah diferensiasi
niat, keputusan, dan
tindakan antara mereka yang baik
(atau kanan) dan yang buruk (atau salah). Sebuah
kode moral adalah sistem moralitas (menurut filsafat
tertentu, agama, budaya, dll)
dan moral adalah salah
satu atau praktik mengajar dalam kode
moral. Moralitas juga mungkin spesifik identik
dengan "kebaikan" atau "kebenaran." Amoralitas adalah perlawanan
aktif terhadap moralitas (oposisi yaitu
untuk apa yang baik atau kanan),
sedangkan asusila adalah berbagai didefinisikan sebagai ketidaksadaran, ketidakpedulian terhadap,
atau tidak percaya dalam setiap set standar moral atau prinsip
[1] [2]. [3]
[4] contoh kode
moral adalah Golden Rule yang menyatakan bahwa, "orang
harus memperlakukan orang lain sebagai
salah satu ingin orang lain untuk
mengobati diri sendiri.Namun secara mendalam
lagi, definisi moral begitu beragam.Sebagai cintoh missalnya : masyarakat
yang membela kelompoknya yang dihina oleh kelompok lain yang berbeda agama atau
budaya, maka secara hati nurani akan kita bela sampai mati kelompok kita yang
dihina, secara nurani adalah perbuatan yang seharusnya.Namun saat kita
membicarakan tentang revolusi, maka yang kita bicarakan adalah paradigma baru,
misalnya : Korupsi bukanlah hal yang harus diberantas, korupsi adalah
sikap yang sudah tidak layak kita lakukan, karena melawan prinsip masyarakat
yang memiliki harkat dan martabat. Maka masyarakat yang bermartabat
sudah tidak layak melakukan korupsi. Inilah paradigma baru atau
bagian dari revolusi sikap.Moral haruslah terdefinisi agar
masing-masing dari masyrakat tidak liar dalam mengartikan moral. Namun moral juga tidak boleh distandarisasi oleh sebuah lembaga sehingga
menjadi dotrin. Moral tidak boleh terjebak dengan standarisasi
versi sebuah lembaga atau versi oleh satu individu, moral adalah sikap abstrak
yang keluar dari penjabaran manusia, pengembaraan spiritual, sesuai pengalaman
masing-masing individu.Maka bisa dikatakan , moral tidak bisa didefinisikan
namun tidak liar. Moral tidak bisa distadarisasikan namun tetap kita harus
selalu mencari tau pencarian kita akan pengertian ” apakah saya sudah bermoral ? “Tidak bisa
dipungkiri, moral adalah hal yang abstrak, namun keberadaannya jelas, esensinya
diperlukan untuk menstabilkan jiwa kita. Tanpa moral maka segala keahlian atau
kemampuan kita akan selalu tidak terkendali. Dipenuhi pembenaran kata hati
untuk membenarkan perbuatan kita yang tampak baik, padahal sebenarnya hanya
melakukan pembenaran, membohongi hati kita sendiri. jadi peran pendidikan moral
sangat penting di era globalisasi ini.ada beberapa cara agar dampak negative
globalisasi tersebut agar bisa dihentikan salah satunya adalah lewat pendidikan
nilai nilai moral itu tadi karena
pendidikan nilai moral tersebut dapat membantu seseorang untuk berkembang
menjadi seseorang yang lebih manusiawi yang dapat menjadi manusia yang beguna
dan berpengaruh dalam masyarakat yang bersifat produktif kooperatif serta
menjadi sorang yang bertanggung jawab.
2.11 Isu Pendidikan
Nilai Moral di Beberapa Negara
Indonesia
Pendidikan nilai moral di Indonesia disadari atau tidak
masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam
perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum
nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan
yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran
nilai-nilai yang sektariansubjetif dan belum banyak menyentuh nilai universal-objektif.
Menurut Sudarminta praktik yang terjadi mengenai sistem pendidikan nasional era
Orde Baru terutama pendidikan nilai hanya mampu menghasilkan berbagai sikap dan
perilaku manusia yang nyata-nyata malah bertolak belakang dengan apa yang
diajarkan. Dicontohkan bagaimana pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan agama_dua
jenis mata pelajaran tata nilai yang ternyata tidak berhasil menanamkan
sejumlah nilai moral dan humanism ke dalam pusat kesadaran siswa. Hasil
penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama
antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam, termasuk bahan ajar
akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan
pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim. Dengan
kata lain, pendidikan agama lebih didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan
agama dan lebih banyak bersifat hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh
aspek sosial mengenai ajaran hidup yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.
India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer
dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan
nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah,
sosial, dan kePendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global
warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut
pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama
sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan
pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal.Bagi
sekolah swasta, baik dalam komunitas Kristen maupun Islam,nilai agama menjadi
prioritas pengembangan nilai. Berbeda halnya sekolah negeri,agama ditempatkan
pada area nilainilai yang mengandung kebenaran untuk semua pihak. Ruang lingkup
pendidikan nilai meliputi
(a) pendekatan dan metodologi pendidikan nilai pada
tingkat dasar dan menengah,
(b) untuk tingkat dasar program lebih dititikberatkan
pada pengindentikasian nilainilai yang perlu ditanamkan kepada siswa dengan
strategi dan teknik yang tepat,
(c) pengembangan konseling melalui pendekatan agama,
(d) program pengembangan afektif bagi para instruktur
pelatihan guru.
Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya
dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai
diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan
pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata
pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui
kegiatan kokurikuler. Silabus pendidikan nilai untuk sekolah dasar berupa
kebersihan badan dan pikiran, empati, sikap tidak berlebihan, bersyukur, rajin,
jujur, adil, kasih sayang, hormat, keharmonisan sosial, kesederhanaan, dan
kebebasan.Meski cukup konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma,
etika,estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih dihadapkan
pada beberapa kendala. Di antaranya, (a) nilai masih banyak diajarkan melalui
pendekatan pembelajaran yang preskriptif, sehingga kurangmemberikan kebebasan
kepada peserta didik untuk memilih dan menentukannilai,
(b) alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan, khususnya
untuk mengembangkan teknik-teknik pengamatan perilaku, belum terjabarkan
dengan jelas,
(c) cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai
masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan
(d) pandangan guru, orang tua, dan masyarakat masih
menempatkan kognisi sebagai aspek yang lebih penting daripada aspek afeksi.
Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat
dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian
penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan
nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang
tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi
peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan
sentimental, perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab
yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh
kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak guru yang
kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai. Di beberapa
sekolah dijumpai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dilakukan dan
apa yang benar-benar terjadi dalam proses pendidikan. Untuk mengatasi berbagai
persoalan di atas, pemerintah Cina mengambil beberapa kebijakan berikut.
Pertama, pendidikan moral dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan diajarkan
sekali dalam seminggu. Kedua, sejumlah peraturan telah disusun dan
disebarluaskan untuk menjamin terjadinya pembentukan kebiasaan, sikap, dan cara
hidup siswa yang diharapkan. Ujudnya tata tertib perilaku anak usia sekolah
dasar, dan tata tertib anak usia sekolah menengah. Ketiga, untuk memobilisasi
dukungan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan moral di sekolah,
pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan resmi akan pentingnya pengembangan
moral dan afeksi anak usia sekolah dasar. Keempat, dengan kebijakan resmi
pemerintah, sekolah didorong untuk memperbarui dan memodifikasi tujuan pendidikannya.
Kelima, guru didorong untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang mampu
mengangkat pengalaman kehidupan sehari-hari. Tampaknya, pendidikan nilai moral yang
dilaksanakan di empat negara tersebut (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina)
memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena masingmasing negara
memiliki ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral pada jenjang pendidikan
dasar menunjukkan beberapa kesamaan. Fokus pendidikan nilai moral pada jenjang
pendidikan
tersebut berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan
tata hidup berbangsa dan bernegara. Lebih lanjut, pendidikan nilai moral di
empat Negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang
pendidikan nilai moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun yang
tidak. Akan tetapi, pendidikan nilai moral pada hakikatnya inheren dalam setiap
mata pelajaran. Ada pula pendidikan nilai moral yang lebih diarahkan pada
pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan.
2.12 Dimensi
Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas,
berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan
nilai moral, dan strategi pendidikan nilai moral.
A. Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas
nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak.
Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang
universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pada dasarnya
setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal. Nilai
moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota
masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin,
2001: 215). Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai moral bersifat
relatif. Para ahli lain memandang bahwa perkembangan moral dan bentuk-bentuk
sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang pribadi lahir
dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada bidang yang
jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai dengan
ukuran kelompoknya.Dengan demikian, perkembangan moral dipahami sebagai suatu
Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global internalisasi langsung
norma-norma budaya eksternal. Anak yang sedang tumbuh dan berkembang dapat
dilatih untuk berperilaku dengan cara sedemikian rupa sehingga ia dapat
menyesuaikan diri dengan berbagai aturan dan nilai-nilai yang ada dalam
masyarakatnya. Aturan dan nilai-nilai di masyarakat tentunya nilai-nilai
universal dan nilai-nilai lokal yang baik, yakni nilai lokal yang tidak
bertentangan dengan
nilai-nilai universal, sedangkan nilai nilai negatif
misalnya radikalisme harus dilakukan tindakan pencegahan sehingga tidak terjadi
di lingkungan masyarakat,karena nilai radikalisme itu bertentangan
dengan nilai universal dan nilai lokal.Pertimbangan moral
adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak
semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di
antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan atau
kebenaran, estetis, teknologis atau bijak. Berbeda dengan penilaian terhadap
kebijakan atau estetika, penilaian moral cenderung bersifat universal,
inklusif,konsisten, dan didasarkan pada alasan-alasan yang objektif,
impersonal, atau ideal. Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada
apa yang didapatkan seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu
moral dan bagaimana ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai
alasan mengapa seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga. Hal
ini merupakan penentu struktur tingkat pertimbangan moral seseorang, yang
sekaligus menentukan keputusan moral atau perilaku moral.Kohlberg, melalui
penelitian Longitudinal and Crosscultural, telah berupaya
untuk menyempurnakan teori Piaget dengan menetapkan enam
tingkat pertimbangan moral yang relatif tidak bergantung pada umur.Penetapan
tingkat perkembangan moral ini didasarkan pada karakteristik empiris yang
memiliki beberapa ciri pokok berikut.
(1) Tahap-tahap pertimbangan moral tersusun secara utuh,
artinya system berpikirnya terorganisasi.
(2) Tahap pertimbangan moral berurutan secara invarian
dan tidak pernah terbalik dalam
semua kondisi (kecuali mereka yang mengalami trauma secara
ekstrem perkembangannya selalu progresif). Tidak ada tahap-tahap terlompati dan
gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi.
(3) Tahap-tahap pertimbangan moral terintegrasi secara
hierarkis. Artinya, tingkat pemikiran moral
yang tinggi telah tercakup dan menguasai tahap-tahap dan
pola piker yang berada di bawahnya.
(4) Struktur tingkat pertimbangan moral berfungsi
melahirkan kecenderungan ke arah tahapan-tahapan yang lebih tinggi.
(5)Struktur pertimbangan moral harus dibedakan dengan isi
pertimbangan moral. Sebagai contoh, suatu pilihan yang ditetapkan seseorang
(se-bagai sesuatu yang berharga atau tidak berharga)
dalam suatu situasi yang dihadapi disebut isi
pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan
suatu pilihan (struktur penetapan pilihan) berdasarkan
pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral (melalui Muhamimin, 2001: 216).
Selanjutnya, Kohlberg mengidentifikasi enam tahap tingkat pertimbangan moral,
yaitu
(i) orientasi hukuman atau kepatuhan,
(ii) orientasi instrumental-relatif,
(iii) orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik,
(iv)orientasi hukum dan ketertiban,
(v) orientasi kontrak social legalitas, dan
(vi) orientasi prinsip kewajiban. Hasil kajian Kohlberg
mengenai
tahap-tahap perkembangan moral memiliki kelemahan di mana
tahap ke-5 kurang memiliki bukti empiris dan tahap ke-6 tidak memiliki bukti
empiris.Hasil ini dikritik oleh Gilligan (1982) karena semua responden
penelitian berjenis laki-laki, padahal menurut Gilligan wanita memiliki
perbedaan dengan laki dalam membuat keputusan moral (Zuchdi, 2008: 19). Secara
singkat dikatakan laki-laki dalam membuat keputusan moral mengutamakan “hak”, sedangkan
wanita mengutamakan “tanggung jawab”. Perbedaan Kohlberg dan Gilligan tersebut
ditanggapi oleh Reimer, Paolitto, dan Hersh (1983:108), bahwa kematangan moral
harus dilihat dari dua sisi. Laki-laki dalam penalaran moral tentang keadilan
mendasarkan pada prinsip, perlu belajar menjadi orang yang memiliki kasih
sayang di samping bertindak adil. Sebaliknya, wanita yang memiliki sifat kasih
saying perlu belajar mengintegrasikan moralitas personal dan institusional
dalam prinsip-prinsip moral yang konsisten Dengan demikian teori perkembangan moral
tawaran Kohlberg tersebut dari perspektif gender tampak bias gender karena
objek kajian penelitian pada jenis laki-laki saja, sedangkan wanita tidak
dijadikan objek penelitian, padahal dari sisi psikologi laki-laki dan wanita
terdapat perbedaan. Di antara perbedaan kedua jenis laki-laki dan wanita antara
lain telah disebutkan di atas. Meskipun demikian tawaran pemikiran moral
Kohlberg tetap memberikan sumbangan pemikiran yang berguna dalam kajian
moral.Jika dianalisis lebih lanjut sumbangan pemikiran moral Kohlberg lebih
menekankan pada pemikiran moral belum menjangka pada penghayatan, dan ranah spiritual.
Sementara tesis Capra yang dituangkan dalam paradigm “Visi Realitas Baru” yang
antara lain berintikan pandangan hidup system dan keutuhan. Ia mengamati
perubahan yang berlangsung terus menerus yang merupakan sebuah “titik balik” dalam
peradaban manusia yang mewakili tumbuhnya kesadaran baru dalam kehidupan yang
sarat nilai Tesis Capra lebih menekankan bahwa setiap peradaban manusia akan
melahirkan kesadaran baru dalam kehidupan yang sarat nilai. Oleh karena itu,
ada dua hal esensial menghadapi peradaban manusia, yaitu (1) lahirnya kesadaran
baru, dan (2) kehidupan sarat nilai.
2.13 Pendidikan
Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha
mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat
dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa
karakteristik.Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan
pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya, ia memandang hidupnya sebagai suatu
proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan
perkembangan tersebut. Oleh karenanya, ia berani menanggung resiko dan
menghadapi konflik, selagi ia tahu bahwa tanpa resiko itu perkembangannya
tertahan. Dengan kata lain,ia memiliki kesadaran terhadap perubahan
perkembangan yang mesti dialami.
Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global
Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan
identitasnya. Dia dapat mengenal dan menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan yang
ia percayai dan menegaskannya secara terbuka, sejauh nilai-nilai itu menjadi
kesatuan dengan jati dirinya. Walaupun ia memiliki kepekaan terhadap
kebutuhan-kebutuhan orang lain, jati diri atau identitas yang telah ia
kembangkan adalah miliknya dan tidak disandarkan pada harapan orang lain atas
dirinya. Jati diri yang ia miliki terbentuk dari proses kesadaran memilih dan
keteguhan hatinya. Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan
peka terhadap kebutuhan orang lain. Dia tidak memutuskan diri dari orang-orang
dan dia dapat mengkomunikasikan rasa empatinya secara jelas terhadap orang
lain. Dia secara efektif dapat berfungsi dalam suatu situasi kelompok. Keempat,
pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran. Dia
merasakan suatu keseimbangan antara hati dan pikirannya. Ia mengalami rasa
keutuhan pribadinya.Dia dapat menggunakan daya kemampuan intuisi, imajinasi,
dan penalarannya. Pendidikan nilai moral tawaran John P. Miller tersebut di
atas tidak jauh berbeda dengan tawaran Kohlberg. Artinya, John P. Miller pun
beranggapan bahwa pendidikan nilai moral itu berfokus pada pembentukan pribadi secara
integratif. Oleh karena itu, pendidikan nilai moral bersifat individualistis.
Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi karena aspek sistem
nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi. Selengkapnya, aspek
afektif meliputi harga diri, minat, motivasi, sikap, sistem nilai, dan
keyakinan.Ada beberapa model pendidikan afektif (nilai) yang dapat
dipertimbangkan. Sekurang-kurangnya, ada tujuh belas model. Setiap model
mem-punyai tujuan yang berbeda. Berdasarkan arah atau orientasinya, sejumlah
model dapat digolongkan dalam satu rumpun.
Tujuh belas model pembelajaran afektif yang ada dapat
dikelompokkan ke dalam empat buah rumpun dengan sifat penggolongan yang tidak
ketat. Empat buah rumpun model pendidilan afektif itu adalah (i) model-model
perkembangan (developmental models), (ii) model-model pengenalan diri
(selfconceps models), (iii) model-model kepekaan dan kecenderungan-kelompok
(sensitivity and group-orientation models), dan (iv) model-model perluasan
kesadaran (consciousness-expansion models. Model pendidikan afektif yang
dipandang relevan dengan pendidikan nilai adalah model komunikasi, model kepekaan
perhatian, model analisis transaksional, model membangun hubungan manusiawi,
dan model kejiwaan sosial. Setiap model pembelajaran itu harus memenuhi
kerangka kerja yang meliputi arah teori, penerapan kelas, peranan guru,
kelayakan model, dan lingkungan belajar. Dengan demikian, tugas guru adalah
memilih model yang paling efektif untuk suatu lingkungan tertentu. Pada waktu
memilih model, guru harus memperhatikan dua hal. Pertama, model itu harus memenuhi
tujuan dan kepentingan guru, misalnya apabila kepentingan untuk memudahkan
terbentuknya jati diri yang positif, yang dipilih ialah salah satu di antara
model-model yang tergolong dalam rumpun pengenalan diri (self-concept). Kedua,
model itu harus disesuaikaN dengan keadaan struktur yang dapat dihadapi oleh
murid. Beberapa murid memerlukan lingkungan dengan struktur yang ketat dan
dapat mengarahkan mereka, sedangkan beberapa murid yang lain lebih cocok dengan
situasi yang lebih longgar.
2.14 Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut
Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i)
inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu
meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan
perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan
keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial
yang kondusif. Pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang
dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan. Demikian pula, banyak sumber
pengembangan nilai-nilai dan banyak pula faktor lain yang membatasinya. Di sisi
lain, keseluruhan kurikulum sekolah berfungsi sebagai suatu sumber penting
pendidikan nilai. Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan
faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping
kesediaan peserta didik itu sendiri. Peserta didik tidak dapat terlepas dari
pengaruh apa yang dilakukan para guru mereka yang berkenaan dengan pendidikan
nilai di sekolah, baik dengan metode langsung maupun tidak langsung.
Nilai-nilai itu dapat diterima peserta didik melalui kedua metode tersebut,
baik yang sudah dirancang dalam kurikulum maupun nilai yang terkandung di dalam
kurikulum sebagai hiddent curriculum.Yang ditekankan dalam pendidikan nilai
adalah keseluruhan proses pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh
yang melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Oleh karena
itu, pendidikan nilai tidak dapat disajikan hanya oleh seorang guru atau hanya
dalam satu pelajaran, tetapi diperlukan format yang beragam dari berbagai
pelajaran yang mengintegrasikan secara sendiri sendiri atau dengan kombinasi.
2.15 Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di
atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya
indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara
langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan
mengucapkannya.Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku
yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku
yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan
untuk mengembangkan perilaku
yang baik. Dengan penerapan metode langsung dimungkinkan
nilai-nilai yang diindoktrinasi dapat diserap peserta didik, bahkan dihafal di
luar kepala, tetapi tidak terinternalisasikan, apalagi teramalkan. Kemungkinan
kedua, nilai nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan, tetapi berkat
pengawasan pihak penguasa bukan atas kesadaran diri peserta didik. Dalam hal
ini, nilai moral yang pelaksananya seharusnya bersifat suka rela (voluntary
action) berubah Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global menjadi
nilai hukum yang dalam segala aspeknya memerlukan pranata hukum.Di samping itu,
pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode
dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode
reflektif (Muhadjir,1988:161). Masing-masing metode itu dapat dijelaskan secara
singkat sebagai
berikut.
a. Metode dogmatik adalah metode untuk mengajarkan nilai
kepada peserta didik dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran
yang harus diterima apa adanya tanpa mempersoalkan hakikat kebaikan dan
kebenaran itu sendiri.
b. Metode deduktif adalah cara menyajikan nilai-nilai
kebenaran (keutuhan dan kemanusiaan) dengan jalan menguraikan konsep tentang
kebenaran itu agar dipahami oleh peserta didik. Metode ini bertolak dari
kebenaran sebagai teori atau konsep yang memiliki nilai-nilai baik, selanjutnya
ditarik beberapa contoh kasus terapan dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat, atau ditarik ke dalam nilai-nilai lain yang lebih khusus atau
sempit ruang lingkupnya.
c. Metode induktif adalah sebagai kebalikan dari metode
deduktif, yakni dalam membelajarkan nilai dimulai dengan mengenalkan
kasus-kasus dalam kehidupan sehari-hari, kemudian ditarik maknanya secara
hakiki tentang nilai-nilai kebenaran yang berada dalam kehidupan tersebut.
d. Metode reflektif merupakan gabungan dari penggunaan
metode deduktif dan induktif, yakni membelajarkan nilai dengan jalan
mondar-mandir antara memberikan konsep secara umum tentang nilai-nilai
kebenaran, kemudian melihatnya dalam kasuskasus kehidupan sehari-hari, atau
dari melihat kasus-kasus sehari-hari dikembalikan kepada konsep teoretiknya
secara umum. Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara
rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajaran. Teknik pendidikan nilai moral
yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah(i)
teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan
konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi (Muhadjir,
1988:199).Berikut ini sekedar contoh implementasi pendidikan nilai. Contoh (i)
berkenaan dengan keteladanan. Pengimplementasian pendidikan nilai kepada
peserta didik memerlukan adanya kesadaran para pendidik agar senantiasa menjadi
contoh bagi peserta didik agar tidak bersikap mendua. Misalnya,jika peserta
didik dituntut berperilaku jujur, berucap dengan upacan yang baik,
konsekuensinya para pendidik dituntut berperilaku jujur, tidak mengajarkan
kebohongan, dan bertutur kata yang baik. Contoh (ii) berkenaan dengan
pernyataan bahwa jika si pendidik menginginkan peserta didik menghormati hukum,
si pendidik harus selalu mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku. Perlu
disadari bahwa setiap ucapan dan perilaku pendidik (orang tua dan guru) sangat
mempengaruhi karakter peserta didik. Sebagai konsekuensinya, para pendidik
(orang tua, guru, dan para pembimbing) harus konsisten dalam berperilaku moral
karena peserta didik tumbuh dan berkembang mengikuti model perilaku para
pendidik. Mereka akan melakukan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh si
pendidik. Para pendidik hendaknya selalu memeli hara nilai diajarkan dan
konsisten dalam berperilaku.
BAB III
PENUTUPAN
KESIMPULAN
- karena
selain memberikan dampak yang buruk bagi suatu bangsa globalisasi juga memberikan
dampak positif juga oleh karena itu kita sebagai warga Negara harus bisa
menyaring budaya budaya yang masuk ke Negara kita. kita harus pandai dalam menyaring budaya
tersebut mengambil hal yang posif saja yang bisa diterima oleh masyarakat yang
bisa memberi pengaruh baik bagi moral suatu bangsa.
- Bahwa terjadinya proses
globalisasi dalam aspek sosial terjadi dengan cara melalui berbagai macam media
salah satunya adalah media elektronik seperti televisi,internet,hp dll baik secara
langsung maupun tidak langsung, serta melalui interaksi yang terjadi
dimasyarakat.
- Bahwa dampak yang ditimbulkan
era globalisasi pada aspek sosial yaitu terjadi perubahan ciri kehidupan
masyarakat desa yang tadinya menjunjung tinggi gotong royong menjadi individual,
serta sifat ingin selalu instant pada diri individu tersebut.
- Bahwa penanggulangan pada
dampak era globalisasi pada aspek sosial diantaranya diadakannya pembangunan
kualitas manusia, pemberian life skill, memberikan sikap hidup yang global dan
menumbuhkan wawasan, identitas rasional serta menciptakan pemerintahan yang
transparan dan demokratis.
-
Konsep pendidikan nilai
moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat
individualistik. Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan
mempertimbangkan paradigm yang dikemukakan oleh Capra. Lebih lanjut, dalam
implementasikannya, diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat
melalui pemilihan pendekatan (approach),metode (method), dan teknik
(technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.
- jadi pendidikan nilai moral suatu bangsa sangat penting karena dapat membantu
seseorang untuk berkembang menjadi seseorang yang lebih manusiawi yang dapat
menjadi manusia yang beguna dan berpengaruh dalam masyarakat yang bersifat
produktif kooperatif serta menjadi sorang yang bertanggung jawab
-Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus
kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama,
berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai
dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia.
-Penyelesaian permasalahan hidup yang
dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun
banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan
bantuan luar negeri, misalnya terorisme global,masalah ekonomi, dan masalah
krisis multidimensional.
-Berdasarkan fakta yang
ada, dapat dilihat bahwa terjadi kemerosotan nilai moral, seperti tingkat
kriminalitas yang tinggi, tingkat aborsi yang tinggi, dan lain-lain. Jika
hal-hal seperti ini tidak diperbaiki, hal ini akan menyebabkan rusaknya
generasi masyarakat di masa yang akan datang. Sehingga tidak mungkin zaman akan
berganti lagi seperti zaman jahiliyah dahulu.
- Globalisasi merupakan suatu gejala wajar yang pasti
akan dialami oleh setiap bangsa di dunia, baik pada masyarakat yang maju,
masyarakat berkembang, masyarakat transisi, maupun masyarakat yang masih rendah
taraf hidupnya.Dalam era global, suatu masyarakat/negara tidak mungkin
dapat mengisolasi diri terhadap proses globalisasi. Jika suatu
masyarakat/negara mengisolasi diri dari globalisasi, mereka dapat dipastikan
akan terlindas oleh jaman serta terpuruk pada era keterbelakangan dan
kebodohan.Dampak positif dan negatif pada pengaruh globalisasi terhadap
kehidupan berbangsa dan bernegara pun ada. Salah satunya era globalisasi pada
sistem politik. Bangsa Indonesia telah menerapkan kehidupan berdemokrasi yang
telah membawa perubahan-perubahan yang besar, diantaranya pelaksanaan pemilu
legislatif dengan sistem multipartai dan pemilihan presiden dan wakil presiden
secara langsung. Itu dampak positifnya
-Dari hasil
pembahasan diatas, pemerintah dapat melakukan beberapa tindakan untuk mencegah
terjadinya pengaruh ekonomi bagi kehidupan bangsa dan negara yaitu :Pemerintah
perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran
ekonomi ,Masyarakat harus mencintai produk dari bangsa kita sendiri,Pemerintah
harus meningkatkan kemampuan bangsa dan negara untuk berkompetisi
secara internasional,Pemerintah
harus mampu meningkatkan kualitas produksi dalam negeri agar dapat bersaing di
pasar internasional,Pemerintah juga harus mampu meningkatkan pendapatan
perkapita masyarakat
-Pendidikan nilai atau moral sebagai
isu global di beberapa negara (Indonesia,Malaysia, India, dan Cina)
menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang
ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun
demikian,negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada
nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia,
universal, dan global.
SARAN
-Bahwa di era Globalisasi ini sangat nyata dibutuhkan
generasi yang unggul dan mandiri dalam IPTEK. Oleh karena itu diperlukan sikap
positif dari kita dalam menerima perkembangan IPTEK untuk mengimbangi kehidupan
kita dalam era Globalisasi ini sehingga tercipta generasi yang tidak tertinggal
dalam era globalisasi ini.
Sehingga pengaruh
teknologi informasi memang tidak mungkin kita tolak atau hindari, kita harus
dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat tetapi disisi lain kita
juga harus berhati-hati dan bersikap bijak agar dampak negatif yang
menyertainya dapat kita hilangkan atau paling tidak kita minimalisir,
mengenalkan teknologi informasi sekaligus pemanfaatannya bagi kehidupan pribadi
maupun kehidupan sosial kemasyarakatan dan meningkatkan daya nalar dan daya
seleksi masyarakat terhadap berbagai informasi yang membanjir, sehingga
masyarakat semakin kritis dan dewasa dalam menyikapinya.
-pada masa-masa sekarang Indonesia perlu melakukan
sosialisasi yang berkelanjutan dalam membudayanya IPTEK. Pengenalan IPTEK dapat
di mulai dari tingkat Sekolah Menengah sampai Perguruan Tinggi, juga pelaku
industri dan masyarakat umum.Tujuannya adalah menciptakan generasi yang unggul
dan mandiri dalam IPTEK untuk menghadapi era globalisasi. Sebab globalisasi
proses yang tidak bisa dihindari dan dicegah. Globalisasi dalam Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dimana proses yang mencakup keseluruhan dalam
berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batas yang
mengikat secara nyata. Dalam keadaan global apa saja dapat masuk sehingga sulit
untuk disaring atau dikontrol.
Daftar pustaka
umrefjournal.um.edu.my/filebank/published_article/670/JPMM%202006%20HASMAH%20ZANUDDIN.pdf
http://scholar.google.co.id/scholar?start=30&q=jurnals+moral&hl=id&as_sdt=0
business.illinois.edu/ba/seminars/2011%5CSpring%5Creed_paper.pdf
http://wizanies.blogspot.com/2007/08/akhlak-etika-moral.html
http://grms.multiply.com/journal/item/26
http://dewon.wordpress.com/2007/11/03/kategori-19/
http://kurniapanduwibowo.blogspot.com/2011/04/pengertian-era-globalisasi.html
http://matakuliahekonomi.wordpress.com/2011/05/09/contoh-makalah-globalisasi-full/
http://randinurzaman.blogspot.com/2012/04/makalah-dampak-globalisasi-dalam-bidang.html
http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/05/pengertian-globalisasi.html
http://www.anneahira.com/globalisasi-ekonomi.htm
hrcak.srce.hr/index.php?show=clanak_download&id_clanak_jezik=15830
http://www.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=MJcrTG6tJsAC&oi=fnd&pg=PR7&dq=morals&ots=kiB63q5UUM&sig=2QItIM8VOx3Uims8CsMU_VLveG4&redir_esc=y#v=onepage&q=morals&f=falsemakalah
iptekfilsafat ilmu dan dasar-dasar logika
(JANGAN LUPA DI EDIT DULU SEBELUM DI KUMPUL)
(JANGAN LUPA DI EDIT DULU SEBELUM DI KUMPUL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar