Selasa, 19 April 2016

Makalah Turki Utsmani

Makalah Turki Utsmani

TURKI USMANI
  1. Pendahuluan
    1. Latar belakang
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memeranggi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun, kemalangan tidak berhenti sampai disitu. Timur Lenk, sebagaimana telah disebut, menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, dan diantara ketiga kerajaan tersebut adalah Usmani di Turki. Kerajaan Usmani disamping kerajaan yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertehan dibanding dua kerajaan lainnya  (Mughal di India, dan Safawi di Persia ).[1]
  1. Rumusan masalah
1)      Bagaimana sejarah pemerintahan Usmaniyah?
2)      Apa penjelasan dari Kerajaan Turki Usmani?
3)      Apa saja kebaikan dan kejelekan Khilafah Usmani?
4)      Bagaimana Anatolia sebelum masa orang-orang Usmaniyah?
5)      Apa penjelasan dari Usmani Muda, Turki Muda?
6)      Apa saja peristiwa penting pada masa kemunduran dan kemerosotan Usmaniyah?
  1. B.     Pembahasan
1)      Sejarah Pemerintahan Utsmaniyah
Rentang sejarah antara tahun 923-1342 H dari sejarah Islam merupakan masa Utsmaniyah, yang merupakan periode terpanjang dalam sejarah Islam. Utsmaniyah merupakan pusat Khilafah Islamiyah, karena merupakan pemerintahan Islam yang terkuat pada masa itu, bahkan merupakan Negara paling besar didunia, yang sudah memainkan peran yang pertama dan satu-satunya dalam menjaga dan melindungi kaum muslimin selama 5 abad.
Utsmaniyah telah muncul sejak tahun 699 H/ 1299 M, namun pemerintahan itu belum menjadi khilafah, karena orang-orangnya belum mengumumkan kekhilafahan mereka, hingga akhirnya khalifah Abbasiyah menyerahkan kepada mereka kekhilafahannya pada tahun 923 H/ 1517 M.
Ketika keadaannya telah lemah, Negara-negara Nasrani segera berkumpul,sebelumnya mereka tidak pernah berkumpul seperti pada saat itu. Tujuan mereka untuk membicarakan persoalan dunia Timur ini untuk  atau untuk merencanakan suatu cara bagaimana mengganyang the sick man (Utsmani). Akhirnya mereka memutuskan beberapa hal  tentang kelemahan pemerintahan ini. lalu, mereka mengambil sebagian demi sebagian wilayah kekuasaannya. Sehingga pemerintahan ini jatuh tercampakkan.
Sejarah Khilafah Utsmani tergolong sejarah yang samar, penuh dikelilingi berbagai perkara syubhat. Ini merujuk pada penyimpangan yang terjadi pada masa pembentukannya. Pemerintahan ini dibentuk oleh kekuatan musuh-musuhnya. Pasalnya, para pendirinya adalah orang-orang asing yang tidak memiliki prinsip keadilan, atau orang Arab yang pernah terlibat pertikaian dengan orang-orang Utsmani pada masa tertentu. Atau, orang Turki sekuler yang tunduk kepada undang-undang baru sesudah kejatuhan Khilafah.[2]
2)      Kerajaan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah mongol dan utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan, kemudian Persia dan Iraq. Mereka masuk islam sekitar abad kesembilan atau sepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di tengah serangan-serangan mongol abad ke-13 M, mereka melarikan diri kebarat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil. Di sana, di bawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baikitu, Alauddin menghadiahkan sebidamg tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizatium. Sejak itu mereka membina wilayah barunya dan memilih syukud sebagai ibu kota.
Ertoghrul meninggal dunia tahun1289 M. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, usman. Putra Etroghul inilah yang di anggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memeringtah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagai mana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki  benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, kemudian terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering di sebut juga Usman I.
Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluas, ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M di jadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726H/1326 M-726 H/1359 M) kerajaan Turki Usmani ini dapatmenaklukan Azmir (Semirna) tahun 1327  M, Thawasyanli (1300 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli ( 1356 M). Daerah ini adalah bagian dari benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani.[3]
Ketika Murtad I, pengganti Orkhan,berkuasa (761 H-789 H), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan ke benua Eropa . Ia dapat menaklukan Adrianopel yang kemudian menjadikanya sebagai benua ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia dan seluruh bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar sekutu Eropa di persiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini di pimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murtad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupaka catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi di arahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang di pimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara  tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayzid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.
Kekalahan Bayazid di Ankara itu berakibat buruk bagi Turki usmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah serbia dan bulgaria memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu, putra-putra balyazid saling berebut kekuasaan . suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala.
Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, Kesultanan Mongol dipecah dan dibagi kepada putra-putranya yang satu sama lain berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman) Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad pertama kali mengadakan  perbaikan-perbaikandan meletakan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usaha ini diteruskan Murtad II (1421-1451 M) , sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau bisa di sebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M).
Sultan Muhammad Al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium, lebih memudahkan arus ekspansi Turki Usmani kebenua Eropa. Akan tetapi ketika Sultan Salim I (1512-1520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke Timur denggan menaklukan Persia, Syria, dan dinasti Mamalik di Mesir.[4]usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M). Ia tidak mengarahkan ekspansinya ke satu arah timur atau barat,tetapi seluruh wilayah sekitar Turki Usmani merupakan obyek yang menggoda hatinya. Sulaiman berhasil menundukan Irak, Bekgrado, pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian luas wilayah Turki Usmani pada masa Sultan Muhammad Sulaiman mencakup:
  • Asia kecil, Armenia, Irak, Siria, Hajez,dan Yaman di Asia;
  •  Mesir, Libia, Tunis,dan Aljazair di Afrika;
  •  Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria dan Rumania di Eropa.[5]
Mengutip pendapat Carl Brockelmann, Ahmad Syalabi mengatakan, Sultan salim I pernah meminta kepada Khalifah Abbasiyah diMesir agar menyerahkan kekhalifahan kepadanya, ketika ia menaklukan dinasti Mamalik di sana. Pendapat lain tentang gelar “khalifah” sebenarnya sudah  di gunakan oleh Sultan Murad (1359-1380 M), setelah ia berhasil menaklukan Asia kecil dan dan eropa. Dari dua pendapat ini , ahmad syalabi berkesimpulan ,para Sultan kerajaan Usmani tidak perlu menunggu Khalifah Abbasyah menyerahkan gelar itu, karena jau dari kerjaan Usmani sudah ada tiga Khalifa dalam sati masa. Pada abad ke-10 m,para penguasa dinasti Fathimiyah di Mesir sudah memakai gelar Khalifah. Tidak lama setelah itu, Abd Al-Rahman Al-Nashir di spanyol menyatakan diri sebagai khalifah melanjutkan dinasti Bani Ummayyah di Damaskus, behkan ia mencela para pendahulunya yang berkuasa di Spanyol yang merasa cukup dengan gelar “amir” saja. Karena iti, ada kemmungkinan penguasa usmani memang sudah menggunakan gelar “Khalifah” jaauh sebelum menaklukan dinasti Mamalik, tempat bertahtanya para khalifah abbasiyah, untuk kemudian meminta gelar itu.[6]
Setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya, yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meslipun  terus mengalami kemunduran,  kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu.

3)      Stairway to Constantinople
Pada hari itu salib suci yang berhasil direbut dari persia dikembaliakan kegereja makam kudus. Di yerusalem. Kurang dari tujuh tahun sebelumnya nabi muhamad telah sukses menyatukan suku-suku arab di jazirah yang terpecah belah dalam islam. Rasulullah ssaw memberrikan pemhaman pada kaum muslim dimassa awal, hanya ada dua  tipe negara.
Nabi tidak pernah bercanda dalam uusan janji allah. Tidak kurang 27 kali rasulullah berperang dalam jangka waktu 10 tahun, dalam rangka membentuk mental para sahabat dan jiwa kesatria kaum muslim.
Di antara janji Rasulullah saw tentang penguasa dunia, penitikberatan janji oleh Rasulullah terpusat pada dua peradaban adidaya dunia masa itu, persia dan romawi.
Konstantinopel didirikan ribuan tahun yang lalu oleh para pahlawan legendaris yunani; byzas, kota ini di namai sesuai denagan namanya bizantiyum pada 324. Sebagai ibu kota impeium konstantinopel di huni oleh berbagai etnis dan bangsa yang di dominasi etnis Yunani. Kota ini juga penuh dengan barang-barang berharga dari seluruh dunia yang sebagai hadiah rampasan.
Para rahib dan pastor adalah profesi yang dihormati perayaan kisten dilaksanakan dengan megah dan para penduduk yakin bahwa kota mereka dilindungi oleh tuhan mereka, khususnya bunda maria yang menjadi penjaga suci kota.
Angkatan laut romawi Byzantium menjadi pasukan laut yang kuat pada masanya  dan gelar pasukan laut tanpa tanding ini akhirnya dijajal oleh pasukan muslim pada abad ke7. Kaum muslim awal tesusun oleh orang-orang yang sangat kurang berpengalaman dalam hal anhgkatan laut. Kaum muslim juga membangun armada laut untuk mengimbangi kekuatan laut Byzantium di laut mediterania,
Ekspedisi kali pertama di laut terjadi ketika muawiyah mengerahkan kurang dari 2000 kapalnya ke pulau Cyprusyang menjadi salah satu pangkalan utama pasukan laut Bizantium pada 649 dan menaklukannya karena pertimbangan geografisnya yang begitu dekat dengan pantai barat syam.
Ekspedisi yang dilakukan oleh armada laut muslim yang baru saja tumbuk  kontan membuat kaisar konstan II yang menggantikan Heraklius merasa terancam. Kedua angkatan laut bertemu pada malam hari di pelabuhan Finike di Lycia, pantai selatan asia kecil yang berdekatan dengan pulau Rhodes dan bersepakat untuk melakukan perang pada pagi harinya.
Pada pagi menjelang, konstan II menggeraka kapal-kapalnya  bergerak mendekati kaum muslim dan begitu pula kaum muslim. Dari segi perlengakapan kapal perang, kapal kaum muslim tidaklah secanggih kapal perang kostantinopel maka mereka mengaitkan kapal Bizantium membatasi pergerakannya dan melakukan peperangan jarak dekat. Kaisar kostan terlalu meremahkan kum muslim sehingga ia berperang tanpa formasi , akhirnya tidak  satupun pasukan bizantium yang dapat berbuat banyak kecuali lari atau terbunuh.Kemenangan kaum muslim pada perang yang kelak dikenal dengan nama the battle of masts. Kemenangan ini bukanlah akhir  tetapi awal menuju konstantinopel.
Pada 669, muawiyah memanfaatkan kekacauan di konstantiopel pasca terbunuhnya konstan II untuk melabuhkan 400 kapal di cyzicus. Tahun berikutnya kaum muslim mengepuk konstantinopel, pengepungan dilakukan secaa periodikselama musim semi dan gugur  setelah itu pasukan muslim mereorganisir pasukannya.
Penepunagn ini baru berakhir pada 678 ketika pasukan muslim kalah telak dari pasukan bizantium yang dilengkapi dengan greek fire.muawiah terpaksa menerima kekalahan dan mengakhiri pengepunga yang telah berjalan sealam 7 tahun,
Dengan kekalahan ini kaum muslim menarik diri dari pertmpuran.muawaiah terpaksa menandatangani gencatan senjata selama 30 tahun.[7]
  1. Kemajuan Kerajaan Turki Utsmani
               I.          Bidang Kemiliteran dan Pemeritahan
Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian,kemajuan Kerajan Usmani mencapai masa keemasannya itu,bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting di antaranya adalah keberanian, ketrampilan, ketangguhan,dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan saja dan di mana saja.
Untuk pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai di organisasikan dengan baik dan teratur ketika kontak senjata dengan eropa. Ketika itu, pasukantempur yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang biak, taktik, dan strategi tempur militer usmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, tidak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer yang besar ini di landa kekisruhan. Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi, keadaan tersebut segera dapat di atasi oleh Orjhan dengan jalan mengadakan perombakan besar-besarandalam tubuh militer.
Pembaruan dalam tubuh militer  organisasi militeroleh Orkhan, tidak hanya dalam bentuk mutasi personel-personel pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non-turki dimasukan sebagai anggota , bahkan anak-anak kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana islam untuk di jadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang  jenissari atau inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non Muslim.
Di samping jenissari, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini di sebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun di benahi,karena ia mempunyai peranan yang besa dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke-16, angkatan laut Turki Usmani mencapai puncak kejayaan. Kekuatan militer Turki Usmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang amat luas,baik di Asia,Afrika,maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan kemiliteran ini ialah tabiat bangsa Turki itu sediri yang bersifat militer, berdisiplin dan  patuh terhadap peraturan. Tabiat ini tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyang di Asia tengah.
Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintah yang teratur. Dalam mengelolah wilayah yang luas sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu dengan shadr al-a’zham (perdana mentri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-‘alawiyah (bupati).
Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, dimasa sultan Sulaiman I,disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut di beri nama Multaqa al-Abhur,  yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namanya di tambah gelar al-Qanuni[8]
              II.            Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan, di antaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan adan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan, ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosil, dan kemasyarakatan, keilmuan, dan huruf mereka terima dari bangsa Arab. Orang-orang  Turki Usmani memang terkenal dengan bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka uuntuk menerima kebudayaan luar. Hal ini mungkin karena mereka masih miskin dengan kebudayaan. Bagaimanapun, sebelumnya mereka adalah orang nomad yang hidup di dataran Asia Tengah.
Sebagai bangsa berdarah militer, Turki Usmani lebihb banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan , mereka tidak kelihatan begitu menonjol. Karena itulah, di dalam khazanah intelektual Islam tidak menemukan ilmuan terkemuka dari Turki Usmani. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan yang indah, seperti Masjid Al-Mahammadi  atau Masjid jami’ Sultan Muhammad Al-fatih, Masjid agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayyub Al-anshari, Masjid-masjid tersebut di hiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar kristiani yang ada sebelumnya.
Pada mas Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan saluran air, vila, dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dari bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinin, seorang arsitek Anatolia.
          III.     Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga, fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum bisa tidak berjalan.
Pada masa Turki usmani tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak di anut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi mempunyai engaruh yang amat dominan di kalangan tentara jenassari, sehingga mereka sering disebut Tentara Bektasyi, sehingga tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi jenssari Bektasyi.
Di pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, sperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Pera penguasa lebih cenderung untuk menegakan suatu paham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abd Al-Hamid II, misalnya, begitu fanatik terhadap aliran Asy’ariyah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran tersebut dari kritikan-kritikan dari aliran lain. Ia memerintahkan kepada Syaikh Husein Al-Jisri menulis kitab Al-hushun Al-Hamidiyah (benteng pertahanan Abdul Hamid) untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan dalam ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan Hasyiyah (semacam catatan ) terhadapp karya-karya masa klasik.
Bagaimanapun, kerajaan Turki Usmani banyak berjasa, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam ke benua eropa. Ekspansi kerajaan inni untuk perrtama kalinya lebih banyak ditujukan ke eropa timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agama Islam. Akan tetapi, karna dalam bidang perdaban dan kebudayaan kecuali dalam hal-hal yang bersifat fisik perkembangannya jauh berada di bawah kemajuan politik, maka bukan saja negeri-negeri yang sudah ditaklukan akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan pusat, tetapi juga masyarakatnya tidak banyak memeluk agama Islam.

  1. B.     Kemunduran Kerajaan Utsmani[9]
Setelah Sultan Sulaiman AL-Qanuni wafat (1566M), kerajaan TurkiUsmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi, itu tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman Al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573M). Dimasa pemerintahannya,terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terjadi dari angkatan laut Spanyol, angkatan Laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di Selat Lipoto (Yunani). Dalam pertempuran ini, Turki Usmani megalami kekalahan yang mengakibatkanTunisia dapat di rebut oleh musuh. Baru pada masa sultan berikutnya, Sultan Murad III, pada tahun 1575 M tunisia dapat direbut kembali.
Walaupun Sultan Murad III(1574-1596 M) berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa mafsunya, Kerajaan Usmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabriz, Ibukota Safi, menundukan Georgia, mencampuri urusan dalam negri Polandia danmengalahkan gubernur Bosnia padatahun1593 M.[10]  Namun, Kehidupan moral sultan yang jelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri. Kekacauan ini semakin menjadi-jadi dengan tampilnyaSultan muhammad III (1595-1603 M ), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi.[11] Dalam situasi yang kurang baik, Austria berhasil memukul kerajaan Usmani meskipun Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat bakit untuk memperbaiki situasi dalam negeri,tetapi kejayaan Kerajaan Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar. Sesudah Sultan Ahmad I (1603-1617 M) , situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak dapat di atasi, Syaikh Al-Islam mengeluarkan fatwa agar dia turun dari  tahta dan di ganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebur terakhir tidak mampu memperbaiki keadaan. Daalam situasi demikian, bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat banyak dan terpaksa melepaskan wilayah persia tersebut. Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai dilakuakan oleh Sultan Murad IV (1623-1640 M). Pertama-tama ia mencoba menyusundan menertibkan pemerintahan. Pasukan Jenissari yang pernah menumbangkan Usman II dapat dikuasai. Akan tetapi, masa pemerrintahannya berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara keseluruhan.
Situasi politik yang sudah mulai membaik itu kembali merosot pada pemerintahan Ibrahim (1640-16488 M), karena ia termasuk orang yang lemah . pada masa ini , orang-orang  Venetia melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir orang-orang Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Kekalahan itu membawa Muhammad  Koprulu (berasaal dari Kopru dekat Amesia di Asia Kecil) pada kedudukan sebagai Wazir atau shadr al-a’zham (perdana menteri) yang di beri kekuassaan absolut. Ia berhasil mengembalikan peratuuran dan mengkonsilodasi kan stabilitas keuangan negara. Setelah Koprulu meninggal (1661 M), jabatan di pegang anaknya , Ibrahim, Ibrahim mengangka kekuatan militernya sudah puluh. Karena itu dia menyerang Hongaria dan mengancam Vienna. Namun, perhitungannya meleset, ia kalah dalam pertempuran tersebut  secara berturut-turut. Pada masa selanjutnya, wilayah Turki Usmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari kekuasaannya , direbut oleh negara-negara eropa yang baru mulai bangun. Pada tahun 1699 M, terjadi “perjanjian karlowith” yang memaksa sultan menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Solvenia, dan Croasia kepada Hapsbrug dan Hemenitetz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia. Pada tahun 1770 M, tentara Rusia menngalahkan armada kerajaan Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi tntara Rusia ini dapat di kalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang dapat segera mengkonsolidasi kekuatannya.
Sultan mustafa III di ganti oleh saudaranya, Sultan Abd Al-Hamid (1774-1789M) seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik tahta Kutchuk kinerja, ia mengadakan perjanjian yang di namakan “perjanjian kinerja” dengan Cathrine II dari Rusia.
Isi perjanjian kinerja antara lain:
I.            Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di laut hitam kepada Rusia dan member izin armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan antara Laut Hitam dan Laut Putih.
II.            Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).
Demikian proses kemunduran yang terjadi di kerajaan Usmani selama dua abad lebih setelah di tinggal Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Tidak ada tanda-tanda membaik sampai paroh pertama abad ke-19. Oleh karena itu, satu per satu negeri-negeri diEropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekaan diri. Bukan hanya negeri di Eropa yang memang sedang mengalami kemajuan yang memberontak terhadap kekuasaan Turki Usmani, tetapi juga beberapa daerah di Timur tengah mencoba bangkit memberontak. Di mesir, kelemahan-kelemahan kerajaan Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Ali aby, pada tahun 1770 M, Mamalik kembali berkuasa di mesir, sampai datangnya Napoleon Bona parte dari Perancis pada tahun 1798 M.  Di Libanon dan Syiria , Fakhr Al-Din seorang pemimpin Durze, berhasil menguasai Palestina dan pada tahun 1610 M, merampas Ba’albak dan mengancam Damaskus. Fakhr Al-din baru menyerah tahun 1635 M. Di Persia, kerajaan Safawi  ketika masih jaya beberapa kali mengadakan perlawanan terhadap kerajaan Usmani dan beberapa kali pula ia keluar sebagai pemenang. Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru yaitu aliansi antara pemimpin agama Muhammad Ibn Al-Wahhab yang dikenal dengan gerakan Wahhabiyah dengan penguasa lokal  Ibn Sa’ud. Mereka berhasil mengusai beberapa daerah di zarzirah arab dan sekitarnya dan di paroh kedua abad ke-18 M. Dengan demikian pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di kerajaan Usmani ketika ia sedang mengalami kemunduran, bukan hanya terjadi di daerah-daerahyang tidak beragama Islam, tetapi juga daerah yang berpenduduk muslim. Gerakan seperti itu terus berlanjut dan bahkan menjadi lebih keras pada masa-masa sesudahnya, yaitu pada abad ke-19 dan abad ke-20 M. Ditambah dengan gerakan pembehariuan politik di pusat pemerintahan, kerajaan usmani berakhir dengan berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M.
Banyak faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani menglami kemunduran, di antaranya:
v  Wilayah kekuasaan yang sangat luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat berambisi mengusai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus menerus dangan berbagai bangsa. Hal ini tentu saja menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat di gunakan untuk membangun negara.
v  Heterogenetas Penduduk
Wilayah yang luas itu di diami oleh penduduk beragam. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, di  perlukan organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, kerajaan usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut. Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatarblakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.
v  Kelemahan Para Penguasa
Sepeninggal Sulaiman Al-Qunani, kerajaan Usmani di periintah oleh para sultan-sultan yang lemah,, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau. Kekacauann ini tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama semakin parah.
v  Budaya Pungli
Punglu merupakan perbuatan yang sudah biasa terjadi dalam kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak di raih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yanng berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajallela yang membuat para pejabat semakin rapuh.
v  Pemberontakan tentari Jenissari
Kemajuan ekspansi kerajaan Usmani banyak di tentukan  oleh kuatnya tantara jenessari. Dengn demikian, dapat di bayangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan terjadi sebanyak empat kali, yaitu tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.
v  Merosotnya Ekonomi
Akibat perang yang tak pernah berhenti, perekonomin negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.
v  Terjadinya Stagnesi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi
Kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan  Ilmu dan Teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer yang tidak di imbangi  oleh kemajuan teknologi mengakibatkan kerajaan ini tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari eropa yang lebih maju.
Demikian proses kemunduran kerajaan besar usmani. Pada masa selanjutnya, di periode modern, kelemahan kerajaan ini mengkibatkan kekuatan Eropa tidak segan menjajah dan menduduki daerah Muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani, terutama di Timur tengah dan Afrika Utara.
4)      Kebaikan-kebaikan Khilafah Utsmaniyah[12]
  1. Perluasan wilayah negeri-negeri Islam. Mereka telah menaklukkan konstantinopel. Sebagaimana Hadist Rosulullah SAW “Sungguh Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan, maka sebaik-baik panglima adalah panglimanya dan sebaik-baik pasukannya adalah pasukan itu”. Mereka telah mendatangi Eropa sampai di Austria, lalu mengepungnya lebih dari sekali. Sebagaimana mereka juga telah menguasai seluruh  kepulauan dilaut tengah, dan menariknya di pangkuan Islam.
  2. Menghadapi orang-orang salib dalam berbagai front. Mereka telah mendatangi Eropa timur untuk meringankan takanan kaum Nasrani terhadap Andalusia, tetapi Andalusia jatuh karena kelemahannya. Mereka juga telah mengusir keberadaan Portugis di negeri-negeri muslim. Maka, ambisi Portugis yang telah merencanakan penguasaan terhadap Laut Merah,melakukan penyerbuan ke Hijaz, dan menguasai makam Rosulullah telah tercegah karena kekuasaan Utsmani. Mereka juga telah menghadapi Spanyol yang hendak menguasai Maroko setelah jatuhnya Andalusia. Mereka juga membela kaum muslimin menghadapi Rusia di Asia Tengah dan wilayah Laut Hitam.
  3. Kekaisaran Utsmaniyah menghadapi Zionisme. Sejak lama orang-orang Yahudi memimpikan untuk mendirikan sebuah Negara bagi mereka di Palestina. Pada masa itu gerakan mereka semakin gencar. Mereka telah datang menawarkan fantasi yang menggoda kepada Sultan Abdul Hamid II guna memperoleh restunya. Namun, seluruh tawaran itu ditolak keras oleh Sultan. Sebagaimana orang-orang Mesir menolak kaum Yahudi yang hendak mendirikan Negara diwilayah Sinai di Mesir.
  4. Kekuasaan Utsmaniyah telah memerangi orang-orang Syiah Rafidhah yang menampilkan diri dalam bentuk pemerintahan Safawid. Kaum muslimin di negeri-negeri Teluk dan Irak telah merasakan penderitaan yang sangat hebat akibat orang-orang Rafidhah ini.
  5. Berperan dalam menyebarkan Islam di negeri-negeri yang mereka datangi di Eropa dan Afrika. Banyak kabilah asy-Syarkis yang telah masuk Islam lewat tangan mereka.
  6. Masuknya orang-orang Utsmaniyah di sebagian wilayah Islam telah melindunginya dari bencana penjajah yang telah menimpa wilayah lain.
  7. Pemerintahan ini telah menguasai sebagian  negeri-negeri Islam (hingga luasnya mencapai kira-kira 20 juta km2)
  8. Eropa memerangi orang-orang Utsmaniyah ini karena mereka adalah orang-orang Islam, bukan karena merekaorang-orang Turki. Mereka memusuhinya karena kedengkian terhadap perang salib. Eropa melihat bahwa pemerintahan Utsmaniyah ini telah menghidupkan semangat jihad Islam yang baru.
  9. Pemerintahan ini mencerminkan kesatuan kaum muslimin, karena merupakan pusat Khilafah, tidak ditemukan Khilafah lain di negeri-negeri kaum muslimin. Karena itu, ia merupakan symbol bagi kaum muslimin yang dipandang oleh orang-orang diluar mereka dengan pandangan penuh penghargaan, pemuliaan, dan penghormatan.[13]
5)      Kejelekan-kejelekan Khilafah Utsmaniyah[14]
  1. Puncak kejelekannya adalah system kekuasaan mutlak. Pemerintahan meletakkan nasib kekaisaran yang luas ini hanya ditangan satu orang, yaitu Sultan yang memerintah tanpa batas.
  2. Krisis ekonomi dan social. Ditandai dengan hancurnya keuangan Negara, tidak ditemukan perimbangan dan perbaikan. Karena itu, suap memenuhi hampir semua tempat, kebebasan telah hilang, perampasan wilayah mengancam setiap penguasa, dan mata-mata tersebar si setiap tempat. Para penguasa tidak lagi mementingkan urusan rakyatnya. Mereka hanya disibukkan memenuhi ambisi hawa nafsu dan syahwatnya.
  3. Para Sultan Yang menyimpang. Pemerintahan menyerahkan kekuasaannya kepada para thaghut. Maka, abad ke-13 H /19 M kita menyaksikan kumpulan dari para Khalifah yang berlaku sewenang-wenang dan bertangan bengis. Dimulai dari Musthafa IV, Mahmud II, Abdul Majid I, Abdul Aziz Murad V, dan terakhir Abdul Hamid II.
  4. Melemahkan bangsa Arab. Mereka takut pada kemunculan bangsa Arab dengan mengasingkannya dari posisi-posisi penting, serta benar-benar mengabaikannya sama sekali. Maka, bangsa Arab masa itu sebagai orang-orang bodoh, sakit, terbelakang dan miskin.
  5. Diabaikannya bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an dan Al-Hadits yang mulia, dimana keduanya merupakan sumber asasi bagi syariat islam.
  6.  Tidak adanya kesadaran Islam yang benar pada mereka, serta tidak adanya pemahaman bahwa Islam merupakan system hidup yang sempurna. Mayoritas mereka hanya mengenal Islam sebatas ibadah.
  7. Gampang mengganti pejabat wilayah, khususnya pada masa akhir kekuasaannya, karena khawatir wilayah itu akan memerdekakan diri. Hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman pejabat baru terhadap wilayah itu, yang selanjutnya dia mengabaikan urusannya.
  8. Sebagian penguasa diketahui membunuh saudaranya karena takut menjadi pesaing.
  9. Sebagian mereka menikahi wanita-wanita Nasrani hanya karena faktor kecantikannya saja. Sekalipun ini dibolehkan, tetapi mengandung keburukan yang besar bagi umat. Karena, para wanita ini atau anak-anak mereka telah memengaruhi para penguasa itu atau bahkan mereka menjadi mata-mata bagi kaumnya untuk menentang kaum muslimin.
  10. Orang-orang Utsmaniyah menjalanka pewarisan kekuasaan, seperti halnya orang-orang Umayyah dan Abbasiyah yang seluruhnya telah menyimpang dari sunnah.
  11. Memberikan hak yang berlebihan kepada militer, yang menyebabkan mereka berlaku otoriter, dan melakukan intervensi dalam urusan kekuasaan. Sehingga, merusak dan melampaui batas.
  12. Orang Utsmaniyyah merasa cukup hanya dengan mengambil pajak dari negeri-negeri yang ditaklukkannya. Namun, meninggalkan penduduknya dalam melaksanakan urusan akidah, bahasa, dan adat istiadat mereka. Semangat mereka untuk menyebarkan Islam belum sesuai harapan.
  13. Ketika khalifah telah dalam keadaan lemah di akhir masa kekuasaannya, mereka hanya memusatkan perhatian dalam segi-segi yang negatif saja. Mereka menguasakan urusan kepada orang lain, sampai akhirnya pemerintahan ini jatuh.
6)      Anatolia sebelum masa orang-orang Utsmaniyah
Negeri Anatolia (Asia kecil) dahulu sebelum Islam merupakan kerajaan yang berada di bawah kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Penaklukan-penaklukan oleh pasukan Islam sampai disebagian wilayah timur negeri ini, dari ujung Armenia hingga ke puncak gunung Thurus. Sejak tahun 50 H, pada masa kekhalifahan Muawiyah, kaum muslimin belum mampu menaklukkan Konstantinopel, walaupun telah dilakukan berulang kali usaha penyerangan.
Setelah perang Maladzikird pada tahun 463 H/ 1071 M, yang dimenangkan oleh orang-orang Saljuk dengan kemenangan yang gemilang atas Romawi, pengaruh kemenangan ini terus meluas ke negeri Anatolia. Mereka saat itu telah memiliki pemerintahan-pemerintahan, yang paling terkemuka adalah pemerintahan Saljuk Romawi.
Anatolia kemudian jatuh ke tangan Mongolia setelah merebutnya dari Saljuk Romawi. Maka, terjadilah peperangan antara Mongolia dengan kaum Muslimin. Ini terjadi pada tahun 641 H/ 1243 M. Setelah kekalahan Mongolia pada perang Ain Jalut, tahun 658 H/ 1259 M, berangkatlah Zhahir Bibris ke Saljuk Romawi dan Mongolia, menyusul kekalahan besar ini, sebagai pelajaran bagi mereka  pada tahun 675H/ 1276 M. Bersamaan dengan lemahnya Mongolia, pemerintahan dengan kondisi yang lemah dan  saling bertikai. Pemerintahan Utsmaniyah lalu menguasainya pada waktu yang berbeda. Kemudian menyatukan wilayah ini dibawah benderanya.[15]
7)      Pendirian Pemerintahan ini dan puncak kekuatannya
Orang-orang Utsmaniyah bernasab kepada kabilah Qobi yang berasal dari kabilah-kabilah al-Ghizz Turkmaniyah yang beragama Islam, dari negeri Turkistan. Tatkala terjadi penyerbuan Mongolia atas negeri itu, kakek mereka (Sulaiman Syah bin Qaya Aleb) berhijrah bersama kabilahnya ke Negeri Romawi, lalu ke Syam dan Irak. Ketika tengah kembali, mereka tenggelam di sungai Eufratt.
Kabilah ini lalu terpecah-pecah. Satu kelompok lalu kembali ke negeri asalnya. Dan satu kelompok lainnya berada dibawah pimpinan Urtoghal bin Sulaiman pergi kearah utara Anatolia, bersama mereka ikut pula 400 keluarga Turkmaniyah. Wilayah itu berada di bawah kekuasaan Sultan Salajikoh Alaudin Kaiqobad. Urtoghal membantunya dalam menghalangi sebagian serangan melawan orang-orang Byzantium. Lalu mereka membalasnya dengan menyerahkan wilayah Aski Syahr menjadi wilayah Romawi, serta meninggalkan sebagian besar kekayaan yang diperolehnya dari orang_orang Byzantium. Urtoghal wafat pada tahun 687 H/1288M, lalu digantikan oleh anaknya Utsman. Kepadanyalah pemerintahan ini memiliki hubungan, karena ia merupakan pendiri sekaligus penguasa pertamanya.[16]
Para Sultan dan Khalifah Pemerintahan Utsmaniyah
( 699 – 1342 H / 1299 -1923 M )
No
Nama Penguasa
Awal Masa Kekuasaan

Ciri fase ini

Masa Kesultanan:

1
Utsman bin Urthogal
699 H/ 1299 M
Para Sultan yang kuat
2
Urkhan bin Utsman
726 H/ 1325 M
3
Murad bin Urkhan
761 H / 1359 M
4
Beyzid I bin Murad
791-805 H / 1389-1402 M

Masa pertikaian diantara anak-anak Beyzid

5
Muhammad I bin Beyzid
816 H / 1413 M

6
Murad II bin Muhammad
824 H / 1421 M

7
Muhammad II (al-Fatih)
855 H / 1451 M

8
Beyzid II bin Muhammad
886 H / 1481 M


Masa Khilafah:

9
Salim I bin Beyzid
918 H / 1512 M
Masa kekuatan dan khilafah masa kelemahan
10
Sulaiman (al-Qonuni) bin Salim
926 H / 1519 M
11
Salim II bin Sulaiman
974 H / 1566 M
12
Murad II bin Salim
982 H / 1574 M
13
Muhammad III bin Murad
1003 H / 1594 M

14
Ahmad I bin Muhammad
1012 H / 1603 M
Masa kelemahan
15 Musthafa bin Muhammad
1026 H / 1617 M
16 Utsman II bin Ahmad
1027 H / 1617 M

17 Musthafa I (kali kedua)
1031 H / 1621 M

18 Murad IV bin Ahmad
1032 H / 1622 M

19 Ibrahim I bin Ahmad
1049 H / 1639 M
Masa kemerosotan dan kemunduran
20 Muhammad IV bin Ibrahim
1058 H / 1648 M
21 Sulaiman II bin Ibrahim
1099 H / 1687 M
22 Ahmad II bin Ibrahim
1102 H / 1690 M
23 Musthafa II bin Muhammad
1106 H / 1694 M
24 Ahmad III bin Muhammad
1115 H / 1703 M

25 Mahmud I bin Musthafa
1143 H /  1730 M

26 Utsman  III bin Musthafa
1168 H / 1754 M

27 Musthafa III bin Ahmad
1171 H / 1757 M

28 Hamid I bin Ahmad
1187 H / 1173 M

29 Salim III bin Musthafa
1203 H / 1788 M

30 Musthafa IV bin Abdul Hamid
1222 H / 1807 M

31 Mahmud II bin Abdul Hamid
1223 H / 1808 M

32 Abdul Majid I bin Mahmud
1255 H / 1839 M

33 Abdul Aziz  bin Mahmud
1277 H / 1860 M

34 Murad V bin Abdul Majid
1293 H / 1876 M

35 Abdul Hamid II bin Abdul Majid
1294 H / 1877 M

36 Muhammad Rasyad bin Abdul Majid
1328 H / 1910 M
Masa penguasaan kesatuan dan peningkatan
37 Muhammad Wahiduddin bin Abdul Majid
1336 H / 1918 M
38 Abdul Majid bin Abdul Aziz
1340-1342 H/ 1921-1923 M
Masa Kesultanan 699-923 H / 1299-1517 M)
  1. Utsman bin Urthogal (699 -726 H)
Mongolia menyerang kerajaan-kerajaan Alauddin Saljuk. Alauddin kalah lalu terbunuh, maka Utsman mengambil alih kekuasaannya atas wilayah itu. Kemudian dia mengumumkan diri sebagai Sultan tahun 699 H. Dia melakukan perluasaan kekuasaannya sampai ke Romawi Byzantium.
Kota terpenting yang dikuasainya adalah Brousse. Utsman lalu menggabungkan nama kesultanan Utsmaniyah dengan kota itu, yang diberi nama dengan namanya.
  1. Urkhan bin Utsman (726 – 761 H)
Dia telah menjadikan Brousse sebagai ibukota kerajaannya. Juga membentuk pasukan perang yang pada beberapa waktu kemudian kekuatan besar yang membantu pemerintahan dalam melakukan penaklukan-penaklukan (personel pasukan itu adalah anak-anak orang Nasrani yang telah memperoleh latihan khusus). Dia berhasil menguasai sejumlah kota di selat Dardanil.
  1. Murad I bin Urkhan (761-791 H)
Dia berjalan melewati selat Dardanil menuju ke Eropa dan menyerang semenanjung Balkan. Menaklukkan Adrianapole dan menjadikannya sebagai ibukota serta membentuk pasukan berkuda (kaveleri). Dia memperluas wilayah dalam penaklukan-penaklukannya dan menguasai sejumlah pemerintahan di Anatolia, menguasai Shofia ibukota Bulgaria, dan Salanika ibukota Yunani. Juga mengalahkan Serbia dan membunuh rajanya serta mengambil sebagian besar wilayah negeri itu pada tahun 791 H/ 1389 M. Dia syahid setelah peperangan ini, setelah menguasai seluruh kekayaan orang-orang Byzantium di Asia kecil.
  1. Beyzid I bin Murad (791-805 H)
Beyzid I melanjutkan jihad dan mengepung Konstantinopel. Orang-orang Eropa lalu bergerak kesana. Dengan dorongan Paus, bangsa Eropa memprovokasi Negara-negara membentuk pasukan besar yang terdiri dari sejumlah Negara pada tahun 798 H/ 1396 M. namun, Beyzid berhasil mengalahkan pasukan besar ini.
Timurlank dengan tentara Tartarnya lalu menyerbu tempat ini. mereka memasuki Ankara dan menghancurkan sejumlah besar pasukan Utsmaniyah. Lalu, menahan Sultan Beyzid, yang kemudian meninggal dalam tahanannya tahun 805 M.
Timurlank mengembalikan pemerintahan-pemerintahan Antolia kepada para pemiliknya. Pemerintahan-pemerintahan Eropa ini lalu memisahkan diri, seperti Bulgaria, Serbia, dan Valacie. Timurlank meninggal pada tahun 807 H.[17]
Masa pertarungan di antara anak-anak Beyzid
Anak-anak Beyzid II saling berebut kekuasaan. Mereka saling berperang selama 11 tahun, sehingga Muhammad berhasil mengambil kekuasaan.
  1. Muhammad I bin Beyzid (816-824 H)
Dia mengalahkan saudaranya dan memperoleh kekuasaan. Kemudian berhasil menghilangkan fitnah dalam kerajaan dan mengembalikan kesatuan pemerintahan.
  1. Murad II bin Muhammad (824-855 H)
Dia mengepung Konstantinopel dan mengembalikan seluruh pemerintahan yang memisahkan diri ke dalam perlindungan pemerintahannya. Juga berusaha mengembalikan pemerintahan-pemerintahan Eropa seperti, Bulgaria, Serbia, serta Valacie, juga mengambil Albania.
  1. Muhammad II (al-Fatih) (855-886 H)
Keberhasilan utamanya adalah menaklukkan Konstantinopel (ibukota kekaisaran Byzantium) pada tahun 857 H/ 1453 M, setelah mengepungnya dari berbagai penjuru. Sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang nyata dengan menjadikan Konstantinopel tunduk dibawah kekuasaannya. Dia berhasil membunuh Kaisar Byzantium dalam perang itu. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbesar bagi Utsmaniyah, lalu dia memberikan nama Istanbul (kota kesejahteraan) dan menjadikannya sebagai ibukota.
Kemudian dia menaklukkan negeri Serbia dan ibukotanya Beograd, menaklukkan negeri Maurah, menggabungkan Valacie, dan negeri Bosnia dan Herzik. Penduduk negeri-negeri itu lalu masuk Islam pada masa ini. lalu, dia menaklukkan sebagian kepulauan di Yunani dan Italia, serta menetapkan jizyah kepada banyak pemerintahan.
Setelah keberhasilan besar ini pemerintahan Utsmaniyah menjadi kekaisaran Islam yang agung, merealisasikan kegagalan kaum muslimin selama hampir 8 abad.
Usaha-usaha penting dalam penaklukkan Konstantinopel.
a)      Usaha pertama dilakukan pada masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan sepanjang masa antara tahun 49-52 H, namun menemui kegagalan.
b)      Selanjutnya pada masa Sulaiman bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. Dia telah mengepungnya selama beberapa tahun, namun tidak berhasil menaklukkannya sampai ia wafat. Umar bin Abdul Aziz kemudian memerintahkan  penghentian pengepungan ini.
c)      Abbasiyah al Mahdi dan Harun ar-Rasyid berusaha merebutnya, namun Taufik belum menyertai mereka.
d)     Terakhir Muhammad al Fatih memastikan memasukinya, sebagaimana telah disebutkan. Kemenangan besar ini merupakan langkah awal bagi kemenangan-kemenangan lainnya didunia Islam, dimana dia menggabungkan wilayah ini ke dalam kesatuan Islam.
  1. Beyzid II bin Muhammad (886-918 H)
Dia berhasil mengalahkan pemerintahan Venezia di Italia. Pada masanya Negara Rusia berdiri pada tahun 887 H/ 1481 M setelah melepaskan diri dari Tartar. Namun, pasukan kaveleri memaksanya menyerahkan kekuasaan kepada anaknya, salim, di tahun 918 H.
  1. 7.      Masa Khilafah Utsmaniyah
  2. Masa kekuatan Khilafah (923-974 H/1517-1566 M)
a)      Salim I bin Beyzid (918-926 H/1512-1519 M)
Dia membuat ketetapan menyatukan umat Islam dibawah kekuasaan Utsmaniyah, untuk menghadapi kedatangan orang-orang salib. Dia mengalahkan pemerintahan as-Shafawiyah (Safawid-Syiah) yang telah bersekutu dengan orang-orang Portugis menghadapi kaum muslimin. Dia memasuki ibukota Tibriz pada tahun 920 H setelah perang Jaladiran.
Sementara itu, Mamluk bersekutu dengan orang-orang Shafawiyah untuk menghadapi orang-orang Utsmaniyah. Maka, Salim membuat ketetapan untuk meluaskan kekuasaannya sampai ke Asia, dengan mengalahkan keberadaan Mamluk di Syam dalam perang Marj Dabik di Halb tahun 922 H. dia berhasil membunuh Sultan Mamluk Qanshawah al-Ghawri. Kemudian menyerang Mamluk di Mesir dalam perang Ridaniyah dekat dengan Kairo tahun 923 H dan membunuh penguasa Thuman Bey. Dengan demikian, berakhirlah pemerintahan Mamluk.
Khalifah Abbasiyah di Kairo menyerahkan khilafah kepadanya pada tahun yang sama. Sehingga, Sultan Utsmaniyah Salim I Mekah datang ke Kairo dan mengumumkan ketundukan Hijaz kepada khalifah Utsmaniyah.
b)      Sulaiman (al-Qanuni) bin Salim (926-974 H/ 1519-1566 M)
Pada masanya pemerintahan mencapai puncak perluasan dan kebesarannya. Dia menguasai Beograd, kepulauan Rodhesia, Semenanjung Krym dan ibukotanya Valachie, menerobos Eropa, hingga sampai di Wina ibukota Austria. Dia melakukan pengepungan dua kali, menaklukkan Hungaria, membunuh orang-orang Portugis dipesisir India, dan mengalahkannya pada tahun 943 H. dia menundukkan sebagian besar wilayah negeri-negeri Arab.[18]
Batas pemerintahan Utsmaniyah
Pemerintahan Utsmaniyah berhasil menguasai negeri-negeri Eropa seperti Hungaria, Beograd,Albania, Yunani, Rumania, Serbia, dan Bulgaria, disamping sebagian besar wilayah timur Islam.
Disini pemerintahan Utsmaniyah telah sampai kepada batas terjauhnya. Kekuasaan memanjang dari Hungariingga ke Aswan, dekat dengan jeram sungai Nil, dan dari sungai Furat dan tengah Iran hingga ke Babul Mandub di sebelah selatan jazirah Arabia. Setelah Sulaiman al-Qanuni, penaklukan-penaklukan itu terhenti dan pemerintahan mulai menuju masa kelemahan dan kemundurannya.[19]
Khilafah Utsmaniyah pada masa Kelemahan (974-1171 H/ 1566-1757 M)
Setelah kemenangan-kemenangan besar dan penaklukan yang luas,pemerintahan ini mulai memasuki fase kelemahan. Hal ini disebabkan oleh faktor penting berikut.
  1. Kekaisaran yang luas ini merupakan percampuran dari bangsa-bangsa dan agama yang saling bertentangan, tidak saling membantu.
  2. Kemerosotan pasukan berkuda (kaveleri) dan kerusakan mereka diyakini sebagai penyebab utama runtuhnya bangunan pemerintahan ini, setelah sebelumnya pasukan ini menjadi penopang kekuatan pemerintahan dan kemenangan-kemenangannya.
  3. Pengabdian total terhadap kemaslahatan rakyat dan penuhan kebutuhan mereka.
  4. Penguasaan logika militer yang cenderung kepada kekuatan, otoriterisme, dan kekerasan.
  5. Banyak diantara para khalifah yang menenggelamkan diri dalam kemewahan,, kelembutan, kehampaan, dan kekejian.
  6. Menikahi wanita-wanita Eropa yang menjadi mata-mata bagi Barat di istana-istana Khilafah.
  7. Tidak adanya tujuan mendasar. Setelah meraih kemenangan, para khilafah tidak merasa bahwa disana ada tujuan tau kepentingan dari penaklukan mereka. Namun, mereka cenderung pada kemalasan.
  8. Luasnya kekuasaan pemerintahan, dan tidak adanya kemampuan menguasainya karena buruknya administrasi pemerintahan serte tersebarnya suap dan kerusakan.
  9. Adanya gerakan-gerakan kaum salib Eropa dan peperangan-peperangan yang menghancurkan.
  10. Tidak adanya upaya menjaga kemajuan dan perkembangan ilmu, yang berakibat kepada keterbelakangan dan kemunduran
  11. Gerakan-gerakan dan revolusi yang terus menerus dengan tujuan memerdekakan diri.
  12. Berdirinya lembaga-lembaga rahasia dan organisasi-organisasi serta munculnya paham kedaerahan dan nasionalisme.
  13. Lemahnya para Sultan yang terakhir dan kehinaan mereka.
  14. Menyimpan dari manhaj Allah, serta tidak komitmen dengan pengkajian-pengkajian Islam.[20]
Peristiwa-peristiwa penting pada masa kelemahan
1)   976 H/ 1586 M : perjanjian damai dengan Austria.
2)   978 H/ 1570 M : penaklukan kepulauan Sirpus.
3)   984 H/ 1576 M : pembaruan pencapaian Negara-negara asing.
4)   985-991 H/ 1577-1583 M : penaklukan Syarwan, Karj, dan Degestan serta timbulnya revolusi di Anatolia dan Istanbul.
5)   1021 H/ 1612 M : kekalahan pemerintahan Utsmaniyah dihadapan orang-orang Shafawiyah dan terlepasnya sebagian kerajaan mereka.
6)   1030 H/ 1620 M :  tersebarnya kekacauan dan ketidakstabilan.
7)   1044 H/ 1634 M : penghentian revolusi Fakhruddin al-Ma’ni (dari Duruz) yang telah menguasai Lebanon, sebagian besar Palestina, dan Suriah.
8)   1048 H/ 1638 M : peperangan dengan orang-orang Shafawiyah, dan masuknya orang-orang Utsmaniyah ke Baghdad.
9)   1055 H/ 1645 M : penaklukan Karyat.
10)    1074 H/ 1663 M : pasukan Utsmaniyah memasuki wilayah Morovia, dan Silizia (di Bologna). Majrob terbagi menjadi dua wilayah, satu untuk orang Utsmaniyah dan satunya untuk orang Austria.
11)    1083 H/ 1672 M : ikutnya wilayah Konzaq di Ukrania kepada orang-orang Utsmaniyah.
12)    1094 H/ 1682 M : pengepungan pemerintahan Utsmaniyah terhadap Austria
13)    1100 H/ 1688 M : kekalahan dihadapan orang-orang Austria.
14)    1110 H/ 1698 M : perjanjian Karluftisy, orang-orang Utsmaniyah kehilangan Ukrania, Bodulia, Azuf, Hungaria, serta Transylvania dan sebagainya.
15)    1130 H/ 1717 M : perjanjian Bisarovetis. Dalam perjanjian ini orang-orang Utsmaniyah melepaskan Serbia, Beograd, dan sebagia wilayah Valachie.[21]
Peristiwa-peristiwa penting pada masa kemunduran dan kemerosotan
1)      1182-1187 H/ 1768-1772 M : terjadi revolusi Ali Bek al-Kabir, pemimpin Mesir yang menuntut pemisahan diri. Dia mengambil wilayah Syam dan Hijaz, namun pemerintahan dapat mengalahkan mereka.
2)      1187 H/ 1773 M : perjanjian Qainarajah. Dalam perjanjian ini pemerintahan kehilangan wilayah Krym, Bisarobia (Rumania), dan Koban (Kafkas).
3)      1189 H/1775 M : pemerintahan berhasil menghentikan revolusi Zhahir Umar, yang telah menguasai sebagian besar Palestina.
4)      1206 H/ 1791 M : Rusia menyerahkan sebagian besar wilayah al-Kurm.
5)      1213-1216 H/ 1798-1801 M : penyerbuan Napoleon Bonaparte (Perancis) ke Mesir dan mengalahkan Mamluk. Kemudian berusaha memasuki Syam, namun gagal lalu menarik kembali pasukannya ke Perancis.
6)      1220 H/ 1805 M : Muhammad Ali (Perwira Albania) menguasai Mesir. Dia mengalahkan Mamluk dalam peristiwa Qal’ah tahun 1226 H.
7)      1226-1233 H/ 1811-1817 M: Utsmaniyah memerangi pemerintahan Saudi. Mereka menugaskan Muhammad Ali, penguasa Mesir, untuk mengalahkan pemerintahan Saudi yang masih berumuur muda, dan dakwah Wahabi Salafiyah. Pada waktu itu pemerintahan Saudi sedang mencapai puncak perluasan wilayahnya. Thusun bin Muhammad Ali mendatanginya dan berhasil merebut Hijaz dan sebagian wilayah Najed. Kemudian saudaranya Ibrahim berhasil menguasai ibukota ad-Dir’iyah dan mengalahkan orang-orang Saudi.
8)      1243 H/ 1827 M : terjadi revolusi di Yunani yang didukung oleh Eropa, yang menuntut kemerdekaan Yunani.
9)      1245 H/ 1829 M : pemerintahan Utsmaniyah kalh dihadapan Rusia. Serbia merdeka penuh dari pemerintahan Utsmaniyah.
10)  1242 H/ 1826 M : penghapusan sistem kaveleri yang rusak, dan membentuk sistem militer modern.
11)  1245 H/ 1829 M : Perancis menjajah Aljazair.
12)  1247 H/ 1831 M :  Muhammad Ali menguasai negeri Syam.
13)  1257-1277 H/ 1841-1860 M : perang kelompok di Lebanon, yang berakibat dikuasainya Lebanon oleh orang-orang Utsmaniyah.
14)  1275 H/ 1858 M : Rumania memerdekakan diri.
15)  1277 H/ 1860 M : Pemerintah Utsmaniyah berhasil memadamkan fitnah kelompok yang telah meluas di Syam.
16)  1285 H/ 1868 M :  pembukaan terusan Suez.
17)  1295 H/ 1878 M : dimulainya seruan kepada nasionalisme dan sekulerisme, munculnya sejumlah organisasi dan lembaga. Yang paling menonjol adalah Lembaga Pemuda Turki yang memiliki sayap militer yang diberi nama Persatuan dan Pembangunan.
18)  1295 H/ 1878 M: kekalahan orang-orang Utsmaniyah dihadapan Rusia dalam sejumlah pertempuran, sehingga Rusia hampir mendekati Istanbul. Orang-orang Utsmaniyah kemudian menandatangani perjanjian Stefanus yang berisi pelepasan pemerintahan Utsmaniyah terhadap wilayah Serbia, Jabal Aswad, Bulgaria, dan Rumania.
19)  1295 H/ 1878 M : perjanjian Berlin yang berisi kemerdekaan penuh Bulgaria, penyerahan Austria atas Bosnia Herzegovina, dan penguasaan Inggris terhadap kepulauan Siprus.
20)  1299 H/ 1881 M : Perancis menjajah Tunisia.
21)  1300 H/ 1882 M : Inggris menjajah Mesir kemudian Sudan.
22)  1313 H/ 1897 M : Italia menjajah Eritria, dan sebagian wilayah Somalia.
23)  1315 H/1897 M : diselenggarakan muktamar Zionisme di Swiss dipimpin oleh Hertzel. Mektamar itu menyepakati pendirian Negara nasionalis bagi Yahudi di Palestina, namun Sultan menolak semua tawarannya dan mencegah pindahnya orang-orang Yahudi ke Palestina. Lalu orang-orang Yahudi berusaha menjatuhkannya.
24)  1316 H/ 1898 M : munculnya lembaga Persatuan dan Pembangunan yang menyerukan kepada nasionalisme Turki (Thuroniyah) dan penghapusan khilafah Utsmaniyah yang didukung oleh Yahudi Dunamah.
25)  1328 H/ 1910 M : Sultan Abdul Hamid II dicopot dari jabatannya sebagai Khalifah, dan Partai Persatuan dan Pembangunan menguasai keadaan.
26)  1332 H/ 1913 M : Italia menjajah Libya.
27)  1333-1337 H/ 1914-1918 M : Pemerintahan Utsmaniyah menggabungkan diri dengan Jerman dalam Perang Dunia I tanpa kesepakatan. Jerman kalah, sehingga pemerintahan Utsmaniyah juga menderita kekalahan dan menyerah. Negara-negara Eropa lalu membagi-bagi wilayah kekuasaan pemerintahan itu dan menguasainya.
28)  1342 H/ 1923 M : diumumkannya Republik Turki, dan menempatkan Khilafah hanya mengurusi masalah keagamaan saja. Seorang Yahudi sekuler Musthafa Kemal menjadi Presiden Republik ini. dia adalah pemimpin partai Persatuan dan Pembangunan.
29)  1343 H/ 1924 M : penghapusan Khilafah untuk terakhir kalinya, dan pengusiran rumah para Sultan dari Turki. Maka, ditutuplah lembaran terakhir Khilafah Islamiyah ini.[22]
Fase-fase Kehancuran Khilafah Utsmaniyah
  1. Negara-negara Arab menghadapi orang-orang Utsmaniyah
Negara-negara Arab berada dalam dilemma. Pertama, mereka menghormati Turki yang merupakan kekaisaran Islam, yang mencerminkan kesatuan kaum Muslimin dan ikatan mereka. Kedua, adalah keinginan Negara-negara ini untuk memerdekakan diri, dan membangun dirinya yang telah tertinggal jauh dari Negara-negara maju, yang seringkali mengabaikannya. Gerakan-gerakan menuntut kemerdekaan ini lalu berhembus dengan kencangnya, diantara yang paling menonjol adalah sebagai berikut:
  • Di Mesir : gerakan Ali Bek al-Kabir, kemudian gerakan Muhammad Ali
  • Di Palestina : gerakan pemimpin penduduk local Zhahir Umar (semasa dengan Ali Bek al-Kabir).
  • Di Lebanon : gerakan Fakhruddin Ma’ni, kemudian gerakan orang-orang Syihabiah.
  • Di Irak : gerakan raja-raja Pasya, puncaknya adalah Sulaiman Pasya (Abu Laila).
  • Di Yaman : gerakan az-Zaidiyah.
  • Di Jazirah Arabia : berdirinya pemerintahan as-Saudi dengan fikrah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Di Afrika Utara : kekuasaan digantikan oleh para pemimpinlokal
  1. Sultan Abdul Hamid II bin Abdul Majid (1293-1327 H/1876-1909 M)
Dia adalah sultan kuat terakhir dari para sultan pemerintahan Utsmaniah. Dia tergolong di antara sultan termasyur dan terlama memegang kekhalifan. Pada masanya terjadi peristiwa-peristiwa penting.  Kekaisaran ini telah menyaksikan bintangnya yang tenggelam karena pengucilannya.
Sebelumnya telah terjatuh dua orang sultan, yaitu Abdul Aziz yang dicopot kemudian dibunuh dan Murad yang bersembunyi lalu melepaskan jabatan. Para perwira tinggi militer dan pembesar – pembesar pemerintahan telah ikut terlibat dalam dua kejadian ini.
Mesa kekuasaan Sultan Abdul Hamid II di tandai dengan kekalahan-kekalahan pemerintahan yang luas ini, dan bangkrutnya militer yang menyedihkan. Mereka mundur sebagai akibat dari berhadap dengan gabungan negara Eropa yang Nasrani. Pemerintah ini tidak mampu menghadapinya, maka hilanglah kekayaannya di eropa, asia dan afrika hingga pasukan Rusia tiba di ibu kota Utsmaniyah.
a)        Undang-Undang Utsmaniyah
Pada masa kekuasaanya (1293 H/1876 M) sultan mengumumkan undang-undang Utsmaniah yang berdiri di atas perinsip syuro (musyawarah). Telah dilakukan pemilihan umum untuk membentuk undang-undang ini, namun di kembalikan dan batal pada tahun 1295 H/1878 M. Lalu kembali kepada model kekuasaan mutlak para pendahulunya.
b)        Organisasi Turki Muda
Organisasi ini berdiri sebagai pembatalan undang-undang tersebut dari satu sisi, dan dari sisi lain adalah karna kekalahan-kekalahan yang menimpa pemerintah. Organisasi ini memiliki kantor pusat di Paris dan Jeneva. Oraganisasi ini berhasil menjalin ikkatan dengan pasukan turki di Mecodonia. Dimana akhirnya membentuk partai persatuan pembangunan. Musthafa kamal kemudian menggabungkan diri organisasi ini dan menuntut kembali pengembalian undang-undang
c)        Pengembalian Undang-Undang  dan Pemikiran Panislamisme
Di bawaha tekanan orgaanisasi persatuan dan pembanguanan Sultan Abdul Hamid mengembalikan undang-undang ini yang telah di batalakan selama 31 tahun. Ini terjadi pada tahun 1326 H/1908 M. Aetelah beberapa tahun undang-unndang ini dihapuskan lagi. Saat itu militer talah mengikuti Persatuan dan Pembangunan.  Mereka telah sampai di ibukota dan mengalahkan pasukan sultan. Sultan lalu di asingkan dan di sita kekayaannya, serta akhirnya diusir dari negeri itu pada tahun 1327 H/1909 M
Tidak lama sebelum itu , sebarnya Sultan telah condong ke pemikiran Pan-Islamisme untuk menghimpun kaum muslim dari seluruh negeri. Keinginanan ini telah di sambut dalam jiwa kaum muslimin. Banyak orang yang mendukung seruan yang mulia ini. Tujuan dari usaha sultansebenarnya adalah memperbaiki posisinya yang merosot namun seruan ini tidak berhasil dan tidak terealisasi.
d)       Ditaktorismepara pembesar organisasi persatuan dan pembangunan
Ketika kekuasaan itu telah berada di tangan mereka, setelah di asingkan sultan, para pembesar organisasi persatuan dan pembangunan mulai berlaku ditaktor, tidak lagi memperdulikan undang-undang maupun syariat. Kemudian datanglah Musthafa Kamal untuk mewujudkan keinginan mereka.
  1. Mustafa Kamal at-Tatrurk (Bapak Bangsa Turki) (1342-1357 H/1923-1938 M)
Dia adalah pemimpin turki. Dahulunya adalah seorang perwira dalam pasuakan Utsmaniyah. Lalu, dia bergabung  kedalam organisasi Turki Muda. Namanya mulai bersinar pada tahun 1334 H/191M dia mendirikan partai nasionalis Turki yang mengganti kedudukan organisasi persatuan dan pembangunan.
Diantara kerja besarnya yang terkenal adalah menangnya di Yunani dan mengusir sekutu dari Anatolia pada tahun 1340 H/1921 M. Dia memiliki hubungan yang kuat dengan barat. Dia mengikat perjanjian Luazan dengan mereka pada tahun 1342 H/1923 M yang diantara isinya adalah turki harus menarik kekuasaannya dari seluruh asia kecil, konstatinopel, dan trukistan
  • Menjadi Presiden Republik Turki
Pada tahun 1342 H/1923 M Khalifah islamiah dihapus, lalu turki berganti menjadi Republik sekuler. Mustafa Kamal menjadi presiden dengan model kepemimpinan ditaktor. Pemilihannya telah dilakukan beberapakali. Namuan, ini tidak menyelamatkan rakyat hingga kematiannya pada tahun 1357 H/1938 M.
  • Komitmen-Komitmen dan Permusuhannya terhadap Islam
Syeikhul Islam Musthafa Sabri berkata dalam buku al-Asrar al-Khafiyyah Wara’a Iigha’ al-Khilafah al-Utsmaniyyah,”Mustafa kamal telah memiliki hubungan yang kuat dengan kelompok yahudi (Duanamah0. Bahkan, ia salah satuseorang dari mereka, sebagaimana dikuatkan bahwa anggota Lembaga Ittihadiyah dan kamiliyah (pengikut Musthafa Kamal).
Sejak kekuasaan di pegang Musthafa Kamal , turki telah jauh secara total dari Islam. Dia menghapus Khalifah Islamiah di Turki dan memutuskan hubungan dangan islam dan negara-negara Islam. Dia mengganti Undang-undang Utsmani dangan Undang-undang Modern (Swissi), lalu mendorong turki ke arah Sekulerisme (paham yang memisahlkan negara dengan agama dari dunia). Kemudian itu semua diikuti fenomena kehidupan di Turki. Maka, patut dicatat disini bahwa diantara orientasi utama Turki saat ini adalah orientasinya kepada barat, dan berkurangnya hebungan mereka dengan dunia timur Islam.
Musthafa kamal terus disibukan dengan jabata presidennya hingga dia meninggal pada tahun 1357 H/1938 M. Maka, berakhirlah riwayat Yahudi sekuler ini.dia tidak meninggalkanbagi turki selain kemiskinan dan keterasingan.
  1. 8.      Usmani  Muda
Golongan intelegensia Kerajaan Usmani yang banyak menentang kekuasaan absolut Sultan dikenal dengan nama Usmani Muda (Yeni Usmanlilar – Young Ottaman). Pemikiran-pemikiran yang dimajukan Usmani Mudalah yang memengaruhi pembaharuan yang diadakan sesudah zaman Tanzimat. Usmani Muda pada asalnya merupakan perkumpulan rahasia yang didirikan pada tahun 1865 dengan tujuan untuk merubah pemerintahan absolut Kerajaan Usmani menjadi pemerintahan konstitusional. Setelah rahasianya terbuka pemuka-pemukanya lari ke Eropa tahun 1867 dan disanalah gerakan mereka memperoleh nama Usmani Muda.
Salah satu pemikir Usmani Muda adalah Ziya Pasya (1825-1880) anak seorang pegawai kantor cukai di Istambul. Agar dapat digolongkan dalam kumpulan Negara yang maju, Kerajaan Usmani harus memakai system pemerintahan Kontitusional. Karena Negara maju disana tidak ada yang menggunakan system pemerintahan absolut kecuali Rusia, Rusiapun sekarang mulai meranah ke system kontitusional.
Dalam mengadakan pembaharuan, Zia tidak setuju dengan pendirian meniru orang Barat dalam segala hal. Sebagai orang yang berjiwa Islam kuat, ia menentang keras pendapat bahwa Islam merupakan penghalang kemajuan.
Pemikir terkemuka dari Usmani Muda adalah Namik Kemal (1840-1888). Namik Kemal banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Sinasi, dan ketika yang tersebut akhir ini lari ke Paris tahun 1865, pimpinan Tasvir-I Efkar dipegang Namik Kemal sendiri.
Selain Zia Pasya, Namik Kemal juga mempunyai jiwa Islam yang baik, ia tidak begitu saja menerima ide Barat ia sesuaikan dengan Islam. Jiwa Islamnya yang kuat pulalah yang membuat ia mengkritik keras terhadap pembaharuan Tanzimat. Sebab kemunduran kerajaan Usmani menurutnya terletak pada keadaan ekonomi dan politik yang tidak beres. Jalan untuk memperbaiki adalah merubah dari system absolut ke  konstitusional.
Bicara tentang politik, Namik Kemal berpendapat bahwa rakyat, sebagai warga Negara mempunyai hak politik yang harus dilindungi. Kedaulatan berada ditangan rakyat sepenuhnya, oleh karena itu perlu system perwakilan. Yang dikehendaki Namik adalah sistem Demokrasi.  Negara Islam yang dibentuk dan dipimpin oleh empat khalifah besar, sebenarnya mempunyai corak demokrasi.
Didalam Islam ada ajaran yang disebut al-maslahah al ‘ammah (maslahat umum). Khilafah tidak boleh mengambil keputusan yang bertentangan dengan maslahat umum yang diartikan pendapat umum. Dalam mengurus Negara, Khalifah tidak boleh melanggar syari’at. Dengan argument tersebut, Namik Kemal berpendapat bahwa system Konstitusional bukan Bid’ah dalam Islam. Ide-ide yang diajukan Namik Kemal dijadikan dasar pemikiran pembuatan Undang-undang Dasar 1876 dari kerajaan Usmani.
Orang yang ada dibelakang pengadaan Konstitusi adalah Midhat Pasya, beberapa kali ia diangkat menjadi gubernur, ia memiliki kecakapan dalam memimpin, tetapi karena bentrokan dengan kekuasaan absolut Sultan, ia diberhentikan bebrapa bulan. Waktu itu kondisi ekonomi memburuk, demonstrasi dan huru hara dimana-mana, akhirnya 30 Mei 1876 Sultan Abdul Aziz, dijatuhkan atas dasar fatwa yang dikeluuarkan Syeikh Al-Islam kerajaan Usmani. Murad V sebagai gantinya. Namik Kemal dan Midhat Pasya sebagai menteri.sebelum diangkat menjadi Sultan Murad berada dipengasingan sehingga ia tak mempunyai jiwa yang kuat. Karena beban pekerjaan yang harus dipikul sultan ia menjadi lemah mental lalu ia diganti dengan saudaranya Abdul Hamid. Tiga bulan kemudian Midhat pasya dinobatkan sebagai Perdana Menteri.
Pada waktu itu karena golongan Usmani Muda masih terikat faham-faham kenegaraan yang terdapat pada Islam memakai term-term Islam dalam menggambarkan faham kenegaraan Barat.
  • Term musyawarah : untuk perwakilan rakyat
  • Term Syari’at              : untuk kontitusi
  • Baiah                          : untuk kedaulatan rakyat
Suasana tersebut bukan konstitusi demokratis melainkan semi Otokratis yang ditandatangani oleh Sultan Abdul Hamid pada tanggal 23 Desember 1876. Sifat semi otokritas itu dapat dilihat dari hak dan kekuasaan Sultan sebagai berikut:
  1. Fasal 3   : kedaulatan terletak di tangan Sultan, bukan rakyat.
  2. Fasal 4   : Sultan memiliki sifat suci dan tidak bertanggung jawab tentang perbuatannya.
  3. Fasal 7   :mengangkat dan memberhentikan Menteri, mengadakan perjanjian Internasional, mengumumkan perang, mengadakan damai dengan Negara-negara lain, membubarkan parlemen.
  4. Fasal 54 : rencana untuk undang-undang baru, dapat menjadi undang-undang kalau disetujui Sultan
  5. Fasal      : berhak untuk mengumumkan keadaan darurat jika hal demikian depandangnya perlu. Juga berhak untuk menangkap dan mengasingkan orang yang dianggap berbahaya.
Pembentukan sistem kabinet yang tidak lagi bertanggung jawab kepada Sultan, tetapi kepada parlemen sebagai yang diinginkan Usmani Muda juga tidak berhasil. Fasal 27 hanya menyebut bahwa Perdana Menteri dan Syaikh al-Islam akan dilantik oleh Sultan sendiri. Dengan demikian sebenarnya system cabinet tidak ada, perdana menteri hanya mempunyai kedudukan primus inter pares.
Konstitusi 1876 telah diumumkan dan dengan demikian Usmani Muda berhasil dalam cita-cita dan usaha mengadakan Undang-undang Dasar bagi kerajaan Usmani. Tetapi mereka tidak bisa membatasi kekuasaan absolut Sultan. Yang terjadi malah sebaliknya, kekuasaan tetap bersifat absolut dan kekuasaan itu telah mempunyai dasar konstitusional.
Usmani Muda berkeyakinan bahwa adanya konstitusi merupakan syarat mutlak bagi lancarnya jalan pembaharuan dibidang-bidang lain dalam hidup kemasyarakatan kerajaan Usmani. Hal inilah yang mendorong mereka untuk berusaha membatasi kekuasaan absolut Sultan. Setelah parlemen dibubarkan mereka berusaha menggulingkan Sultan Abdul Hamid.
Kegagalan Usmani Muda dalam mengadakan sistem pemerintahan Konstitusional di kerajaan Usmani dan dalam menjatuhkan Sultan, membuat mereka bukan hanya tidak berhasil dalam usaha pembaharuan, bahkan lebih dari itu, membuat mereka hilang dari arena pembaharuan di kerajaan Usmani pada abad Sembilan belas.
  1. 9.      Turki Muda
Setelah dibubarkannya parlemen dan hancurnya gerakan Usmani Muda, Sultan Abdul Hamid terus memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam menentang lawan menggunakan kekerasan, sehingga ada pengarang-pengarang yang member sifat tirani kepadanya.
Rasa tidak senang timbul, bukan hanya kalangan kaum intelegensia yang mempengaruhi pemikiran liberal, tetapi juga golongan pegawai sipil, militer, bahkan perguruan tinggi. Dalam kelas guru bercerita tentang pemuka Usmani muda, ide-ide mereka, tulisan-tulisan Namik Kemal, mereka rindu masa Usmani Muda. Nyanyian yang memuji Sultan dirubah menjadi kecaman, guru yang membawa ide liberal langsung dipecat.
Dalam suasana demikian timbullah gerakan-gerakan opposisi terhadap pemerintahan absolut Sultan Abdul Hamid,sama halnya di masa lampau dengan Sultan Abdul Aziz. Opposisinya yaitu:
  • Kalangan perguruan tinggi      : membentuk perkumpulan rahasia
    • Kalangan intelegensia             : para pemimpinnya lari keluar negeri dan melanjutkan                                                          opposisi   mereka
    • Kalangan militer                      : menjelma dalam bentuk komite rahasia.
Opposisi di berbagai kalangan inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda. Ide perjuangan Turki Muda dimajukan oleh tiga pemimpin yaitu:
  1. 1.      Ahmad Riza (1859-1931)
Adalah anak seorang mantan anggota parlemen, dimasa mudanya ia berkunjung ke desa-desa di Turki, kemiskinan rakyatnya menusuk hatinya, sehingga ia memutuskan pergi ke Paris untuk melanjutkan studi pertanian untuk mengangkat masyarakat Turki. Setelah studinya selesai ia bekerja di Kementrian pertanian, namun lembaga itu tak peduli dengan masyarakat, mereka hanya mementingkan birokrasi saja. Lalu ia bekerja di Kementrian pendidikan, hasilnya sama. Karena sensor ketet, ia tidak bisa meluapkan inspirasinya ia kembali lagi ke Paris. Disana ia bertemu dan bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin yang terlebih dulu menjauh dari pemerintahan absolut. Di Paris ia mengeluarka surat kabar Mesveret yang diselundupkan ke Istambul untuk dibaca oleh orang-orang Turki.
Di Perancis ia tertarik pada falsafat positivism Auguste Comte(1798-1857), sehingga ia berpendapat “jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan kerajaan Usmani dari keruntuhan ialah pendidikan dan ilmu pengetahuan positif, bukan teologi atau metafisika”. Dalam memorandum yang ia terbitkan di Eropa, ia mengajak Sultan Abdul Hamid supaya merubah sikap dan konstitusional tidak bertentangan dengan Islam, karena dalam Islam ada sistem musyawarat, dan musyawarat adalah dasar pemerintahan konstitusional.
Dalam memorandum yang ia terbitkan di Eropa, Ahmad Riza mengajak Sultan Abdul Hamid supaya merubah sikap dan politik, dan menghidupkan kembali pemerintahan konstitusional, agar pecahnya revolusi di kerajaan Usmani dapat dielakkan.
  1. 2.      Pangeran Sabahuddin (1877-1948).
Selama masyarakat Turki masih bersifat kolektif, maka Sultan tetap mempunyai kekuasaan absolut. Sebagai jalan sementara dalam mengatasi kekuasaan absolut yaitu sebelum corak masyarakat Turki dirubah, ia menganjurkan supaya diadakan desentralisasi dalam bidang pemerintahan. Daerah-daerah diberi otonomi yang masuk sampai ke desa.
Jalan yang paling ampuh untuk merubah sifat masyarakatdari molektif menjadi individual adalah pendidikan. Rakyat Turki harus dididik dan dilatih untuk dapat berdiri sendiri dalam merubah nasibnya sehingga tidak bergantung kepada kelompok.
  1. 3.      Mahmud Murad (1853-1912)
Berasal dari kaukasus dan lari ke Istambul tahun 1873. Ia belajar di Rusia dan disana ia mendapatkan ide-ide Barat, tapi pemikiran Islam masih erat dengannya. Ia mencoba member nasihat kepada Sultan untuk merubah system pemerintahan, namun ditolak, lalu ia lari ke Eropa.
Ia berpendapat bahwa bukanlah Islam yang menjadi sebab kemunduran Usmani, dan bukan pula rakyatnya, karena kemunduran itu dikarenakan oleh Sultan yang memerintah secara absolute. Oleh karena itu kekuasaan Sultan harus dibatasi. Sebagai pemimpin lain ia berpendapat bahwa musyawarah dalam Islam sama dengan pemerintah kontusional Barat. Karena Sultan tidak setuju dengan konstitusi, ia mengusulkan suatu Badan Pengawas yang tugasnya menjaga supaya undang-undang tidak dilanggar oleh pemerintah. Disamping itu perlu pula diadakan Dewan Syariat Agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil Negara Islam di Asia dan Afrika.
Mahmud Murad mempunyai faham pan-Islam. Ia melihat bahwa salah satu sebab bagi kelemahan kerajaan Usmani adalah renggangnya hubungan Istambul dengan daerah-daerah lain, terutama yang berada dibawah kekuasaan Turki.
Meskipun terdapat perbedaan pandangan dan politik diantara ketiga pemuka diatas, namun mereka sepakat untuk menggulingkan Sultan Abdul Hamid. Keputusan ini diambil setelah diadakan dua kali konferensi di Eropa, yang terakhir pada tahun 1907 di Paris. Pada waktu itu di tanah air sendiri terjadi gerakan golongan militer dengan komite-komite rahasia mereka mulai meningkat. Di Damsyik terdapat komite tanah air dan kemerdekaan yang bercabang di Yaffa dan Yerussalem, dengan pemimpin Mustafa Kemal, yang kemudian terkenal dengan sebutan Ataturk. Di Salonika, Masedonia, dan Edirne. Tetapi yang paling terkenal adalah perkumpulan Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terreki).
Ditahun 1908 Batalyon III yang berada di Masedonia dan Batalyon II di Edirne mulai berontak. Tentara di Salonika, Monastiri, dan Anatolia turut pula berontak. Dalam suasana demikian perkumpulan Persatuan dan Kemajuan muncul kedepan dengan terang-terangan, dan menuntut dihidupkan kembali Konstitusi 1876. Pada keputusan itu sepakat bahwa akan menggulingkan Sultan Abdul Hamid dan 1000 tentara akan menyerbu Istambul. Menanggapi ancaman yang sedemikian ini Sultan Abdul Hamid mengambil keputusan menghidupkan kembali Konstitusi 1876 untuk menyelamatkan kedudukannya sebagai Sultan.
Pemilihan umum diadakan dan terbentuklah Parlemen baru. Sebagai ketua dipilih Ahmad Riza dari perkumpulan persatuan dan kemajuan. Turki Muda,dengan berhasilnya pemberontakan mereka terhadap kekuasaan absolut Sultan Abdul Hamid, turut memegang kekuasaan.
Pemerintah Persatuan dan Kemajuan dari semenjak mulai memegang kekuasaan telah dihadapkan dengan problema-problema. Kekacauan yang ditimbulkan pemberontakan 1908 di Istambul, dipakai oleh Austria sebagai kesempatan untuk menggabungkan Bosnia dan Herzegovina kedalam lingkungan daerah kekuasaannya. Bulgaria mengumumkan kemerdekaannya. Pulau Kreta menggabungkan diri dengan Yunani. Negara-negara Balkan mulai mengadakan serangan-serangan terhadap daerah pusat kerajaan Usmani.[23]
  1. 10.  Daulah Usmaniyah
Daulah ini berasal dari suatu kabilah yang hidup di Turkistan, dibawah pimpinan Sulaiman Syah. Kabilah Turki ini berpindah dari satu tempat ketempat lain menghindari bangsa Mongol, akhirnya sampai di Asia kecil dibawah pimpinan Usman, dan mendirikan daulah baru pada tahun 1300 M, yang didirikan atas puing-puing kesultanan Saljuk. Dengan timbulnya daulah Usmaniyah dapatlah Islam menunjukkan kegagahperkasaan yang luar biasa dan dapat menyambung usaha serta kemegahan yang lama sampai kepermulaan abad XX ini.
Seratus tahun lalu, negeri-negeri Eropa Timur (Balkan) bernaung dibawah pemerintahan Usmaniyah. Kekuasaannya meluas kemenara-menara yang menjulang di langit bekas kekuasaan kerajaan Byazantium setelah negeri besar itu ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (1453). Sulaiman al-Qonuni pernah pula dua kali menyerang kota Wina, pusat kerajaan Austria.  Maka sampai sekarang ini masih terdapat kaum muslimin di negeri Bulgaria, Yugoslavia, Cekos, Lokawia, Polandia, keturunan pahlawan Turki Usmani yang pernah menancapkan bendera “Bulan Bintang” di negeri-negeri itu.
Dari negeri Semenanjung Balkan daulah Usmaniyah melebar kesebelah timur sehingga dalam waktu singkat dapat menguasai Irak dan Persi, yang dikuasai daulah Shafawiyah yang beraliran Syi’ah, dapat direbut. Selanjutnya menguasai Syam dan Mesir sehingga pada tahun 1516M/923H dinasti usmaniyah memegang kendali Dunia Islam dengan pusat pemerintahannya di Istambul. Meskipun Usmaniyah berdiri lebih lama daripada Abbasiyah, tetapi umat Islam tidak begitu saja menggelari kepala negaranya dengan sebutan Khilafah, tapi “Sultan”. Perbedaan itu terletak pada dasar kekuasaan yang dipakai oleh masing-masingnya. Khilafah pada dasarnya prinsip Islam yang meliputi dunia dan akhirat, Negara dan agama, hokum islam ditonjolkan dalam segala persoalan. Sedangkan Sultan pada zaman Usmaniyah lebih mementingkan duniawi, sedangkan soal akhirat kurang ditonjolkan, hanya politik Negara belaka sedang soal agama tidak diutamakan.
Turki Usmani membangun imperium (kerajaan tanpa peradaban) yang lebih lama usianya. Hal ini karena mereka hanya sedikit mengenal kebudayaan.  Satu-satunya yang mereka hargai hanyalah kemajuan Militer.  Pada permulaan kemegahannya, Turki memiliki pasukan meriam yang terbaik dan infantry yang terkuat di dunia. Mereka merupakan nacaman yang mengejutkan Eropa. Karena demikian keadaannya masa Usmaniyah bagi kebudayaan Islam adalah masa suram.
Dalam masa suram ini hampir tidak pernah lahir ulama ataupun ilmuwan yang mempunyai pemikiran yang orisinil. Hanya beberapa orang saja, yakni:
  1. Haji Kholifa (Mustofa ibn Abdullah)
  2. Daud Intaqhy (Daud ibn Umar al-Intaqhy al-Dharif)
  3. Jalaludin Rumi (bidang seni, syair,dan arsitektur)
Dalam bidang arsitektur, daulah Usmaniyah mempunyai madzhab tersendiri yang disebut gaya/ style Usmaniyah. Contohnya qubah setengah lingkaran dengan pilar-pilar yang sangat besar sebagaimana terlihat pada bentuk qubah masjid Istiqlal di Indonesia.
Separuh dari wilayah daulah Usmaniyah adalah Eropa, dengan ibu kota Konstantinopel, pusat salah satu peradaban Barat pada zaman pertengahan. Maka tidak heran Usmaniyah kemudian terpengaruh oleh kondisi Eropa. Zaman Sultan Sulaiman Agung (1520-1968 M) terjadi keseimbangan antara kekuatan Usmaniyah dengan kekuatan Barat. Sultan Sulaiman Agung semula mampu menguasai daerah Eropa sampai ke benteng Wina. Namun benteng Wina ini merupakan daerah terakhir sebelah barat yang pernah dikuasai Usmaniyah, setelah itu Usmaniyah tambah mundur. Kemunduran itu semenjakbangsa Portugis menemukan jalan ke Timur melalui Tanjung pengharapan sehingga semua hubungan perdagangan antara Timur dan Barat dipindahkan melalui jalan itu. Perpindahan jalur perdagangan ini berakibat segala bea cukai dan jalur perdagangan yang semula lewat Laut Tengah dan menjadi monopoli daulah Usmaniyah, tidak dapat diambil lagi.  Padahal itu merupakan urat nadi segala pembiayaan kekayaan daulah, yang kemudian mengambil segala keuntungan itu ialah bangsa Portugis. Ditambah lagi bangsa Spanyolmenemukan Benua baru “Benua Amerika” yang kaya raya. Kedua penemuan itu ditambah penemuan semangat baru berasal dari pemikiran dan intelektual yang diwarisi dari kebudayaan Islam telah mengantarkan Eropa kearah kemajuan, sekaligus mendorong dunia Timur khususnya Usmaniyah mengalami kemunduran yang dimulai dari dikalahkannya tentara Usmaniyah di benteng Wina (1683). Kekalahan itu terus bertambah sehingga pada perjanjian Carlowiz yang ditanda tangani tahun 1699 daulah Usmaniyah harus menyerahkan Hongaria kepada Australia, daerah Podalia kepada Polandia dan Arov kepada Rusia
Kekalahan-kekalahan itu mendorong sultan-sultan Usmaniyah berusaha untuk memperbaiki keadaan melalui duta-dutanya yang dikirim ke Eropa. Daulah Usmaniyah berusaha untuk meniru kemajuan-kemajuan yang ada di Eropa, terutama dari Perancis.
Menteri Rasyid Pasha yang lahir tahun 1800 M, berusaha dengan sekuat tenaga mengubah sistem pelajaran di Daulah Usmaniyah dengan  sistem Eropa. Pada masanya disalin pula buku-buku Rosseu dan Victor Hugo kedalam bahasa Turki.
Zia Pasha, seorang penyair, ingin merubah konstitusi Turki. Untuk mendapatkan pengaruh disalinlah buku-buku Perancis kedalam bahasa Turki.
Namik Kemal, lahir 1840, seorang pembangun prosa Turki baru yang dipandang sebagai bapak revolusi kesusastraan Turki banyak dipengaruhi oleh Ibrahim Sinasi yang dekenal sebagai orang yang banyak dipengaruhi ole hide Barat tentang hak rakyat, kebebasan berpendapat, kesadaran nasional, pemerintahan konstitusional dan sebagainya sehingga Namik Kemal nanti berusaha untuk menyesuaikna ide-ide Barat dengan ajaran Islam. Namun semua usaha itu, karena tidak didukung oleh sumber dana yang mencukupi dan tidak pula didukung oleh para ulama dan rakyatnya, Usmaniyah terus meluncur kearah kemunduran.



DAFTAR PUSTAKA

              Sunanto, Musyrifah, 2007, Sejarah Islam Klasik, Kencana
Nasution, Harun, 1996, Pembaharuan dalam Islam, Bulan Bintang
Usairy, Ahmad,2003, Sejarah Islam, Akbar
Amin, Samsul Munir, 2010, Sejarah Peradaban Islam, Amzah
Syalabi, 2009,  Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, PT.Zikra
Siauw,Felix,2011, Muhammad Al-Fatih, Khalifah Press

[1] Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Rajawali Press, Jakarta:2011)
[2] Ahmad al-Usairy,  Sejarah Islam, (Akbar:2003), hlm. 351-352
[3] Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta, Rajawali Press:2011), hlm. 131
[4] Ibid, hlm 132
[5] Ibid.
[6] Ahmad Syalabi, op. Cit., hlm. 34-35.
[7] Siauw, Felix, Muhammad Al-Fatih 1453, (Khilafah Press,Jakarta:2011), h.1-23
[8] Philip K. Hitti, History of Arabs, (London: Macmillan press, 1970),hlm. 713-714
[9] Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam,(Amzah,Jakarta:2010)
[10]Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989),him. 339.
[11] Carl Brockkmann, histori of the Islamic Peoples,(London: Routledge & Kegan Paul, 1982), hlm. 328.
[12] Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbar,2003), h.352-354
[14] Ibid, h. 354-356
[15] Ibid, h. 356
[16] Ibid, h.357
[17] Ibid, h. 360-361
[18] Ibid, h.363-364
[19] Ibid
[20] Ibid, h. 365-366
[21] Ibid, h. 366-367
[22] Ibid, h. 367-369
[23] Ibid
 
Thanks to Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar